Pencarian

Brand
Bentang Pustaka
Penulis
Sanie B. Kuncoro
Kategori
Buku
Fiksi
Drama (2)
Romantis (2)

Bahasa
Indonesia (4)

Hasil: 1 - 4 dari 4
GRIDLIST
1.
Mimpi Bayang Jingga oleh Sanie B. Kuncoro
Soft Cover, Juni 2013
Stock tidak tersedia
Impianku, seorang Jingga, hanya sederhana. Memiliki sebuah rumah di tepi pantai berkarang dengan jajaran pohon kelapa dan palem. Lalu aku akan membuat sebuah kafe, lengkap dengan perpustakaan di teras. Di situ aku akan menerima para petualang dari segala penjuru bumi, yang datang dan pergi meninggalkan serta membawa cerita yang menggugah hati. Namun, ketika satu permintaannya itu harus pula kupenuhi, hatiku berontak. Adakah cinta yang nyata di dunia? ...
2.
Mimpi Bayang Jingga oleh Sanie B. Kuncoro
Soft Cover, Mei 2009
Stock tidak tersedia
Apa impian terbesar dalam hidupmu? Impian Jingga adalah memiliki sebuah rumah di tepi pantai karang. Pantai itu berombak jernih hingga pasir putihnya terlihat jelas di dasar air. Akan ada banyak jajaran pohon kelapa dan palem, dengan dedaunan hijau yang teduh di tepian pantainya. Di depan rumah itu Jingga akan membuat perpustakaan dengan kafe di terasnya. Akan diterimanya para petualang yang datang dan pergi, meninggalkan dan membawa cerita dari segala penjuru bumi. Lalu, apa jadinya dengan ...
3.
No Image Available
Ma Yan oleh Sanie B. Kuncoro (1)
Soft Cover, Januari 2009
Stock tidak tersedia
Lahir di sebuah desa terpencil di Zhangjiashu, Ma Yan adalah seorang gadis perempuan yang unik. Di desa yang sebagian perempuannya menikah muda, serta kesempatan besar untuk bersekolah hanyalah hak istimewa anak laki-laki, tidak membuat surut semangat Ma Yan untuk sekolah. Namun, betapa hancur hati Ma Yan ketika suatu sore ibunya berbicara dengan isak tangis bahwa sekuat apa pun sang ibu membiayai Ma Yan, tampaknya gurat nasib Ma Yan akan seperti yang digariskan untuk perempuan-perempuan miskin ...
4.
No Image Available
Garis Perempuan oleh Sanie B. Kuncoro
Soft Cover, Desember 2004
Stock tidak tersedia
Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri. Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang yang harus dilewati. Mereka tak berdaya mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit. Beranikah mereka menentukan pilihan? Sanggupkah mereka ingkar dari kisah berurai air mata dan ...