Sinopsis :
Membaca buku ini seperti membuka jendela baru dalam memahami tafsir Hamka: tajam, tenang, dan penuh kesadaran sejarah pribadi.”
—Dr. Helvy Tiana Rosa, Sastrawan, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta
Siapa yang pernah hanyut dalam alunan diksi Hamka?
Mungkin tulisannya terasa menyentuh karena dimuati pengalaman hidupnya sendiri. Di antara karya yang paling banyak mengandung narasi biografis ini adalah Kenang-Kenangan Hidup (1950) dan Ayahku (1952).
Bahkan di buku fiksinya seperti Merantau ke Deli dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, narasi biografis ini juga muncul sedikit banyak, tersisip di sana-sini. Tampaknya inilah gaya Hamka saat berkomunikasi dengan pembacanya. Nada ceritanya terasa dekat, personal dan related dengan banyak orang.
Ternyata di karya terbesarnya, Tafsir Al-Azhar, narasi biografis ini juga kadang muncul saat menafsirkan sebuah ayat.
Buku ini mencoba membedah narasi Hamka ketika menafsirkan ayat-ayat poligami. Kenapa ayat ini? Karena Hamka sendiri pernah merasakan “kepedihan” saat ayahnya berpoligami dan menceraikan ibunya.
Dengan latar hidup seperti ini, lantas bagaimana Hamka memaknai ayat-ayat poligami?
*************
Pernahkah Anda terpikir betapa menariknya dunia yang terbuka lebar lewat lembaran buku? Membaca bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga petualangan tak terbatas ke dalam imajinasi dan pengetahuan. Membaca mengasah pikiran, membuka wawasan, dan memperkaya kosakata. Ini adalah pintu menuju dunia di luar kita yang tak terbatas. Tetapkan waktu khusus untuk membaca setiap hari. Dari membaca sebelum tidur hingga menyempatkan waktu di pagi hari, kebiasaan membaca dapat dibentuk dengan konsistensi. Pilih buku sesuai minat dan level literasi. Mulailah dengan buku yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan membaca. Temukan tempat yang tenang dan nyaman untuk membaca. Lampu yang cukup, kursi yang nyaman, dan sedikit musik pelataran bisa menciptakan pengalaman membaca yang lebih baik. Buat catatan atau jurnal tentang buku yang telah Anda baca. Tuliskan pemikiran, kesan, dan pelajaran yang Anda dapatkan.
Ahmad Fuadi (lahir di Bayur Maninjau, Sumatera Barat, 30 Desember 1972; umur 40 tahun) adalah novelis, pekerja sosial dan mantan wartawan dari Indonesia. Novel pertamanya adalah novel Negeri 5 Menara yang merupakan buku pertama dari trilogi novelnya. Karya fiksinya dinilai dapat menumbuhkan semangat untuk berprestasi. Walaupun tergolong masih baru terbit, novelnya sudah masuk dalam jajaran best seller tahun 2009. Kemudian meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 dan tahun yang sama juga masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award, sehingga PTS Litera, salah satu penerbit di negeri jiran Malaysia tertarik menerbitkan di negaranya dalam versi bahasa melayu. Novel keduanya yang merupakan trilogi dari Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna telah diterbitkan sejak 23 Januari 2011. Fuadi mendirikan Komunitas Menara, sebuah yayasan sosial untuk membantu pendidikan masyarakat yang kurang mampu, khususnya untuk usia pra sekolah. Saat ini Komunitas Menara punya sebuah sekolah anak usia dini yang gratis di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.
Memulai pendidikan menengahnya di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo dan lulus pada tahun 1992. Kemudian melanjutkan kuliah Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran, setelah lulus menjadi wartawan Tempo. Kelas jurnalistik pertamanya dijalani dalam tugas-tugas reportasenya di bawah bimbingan para wartawan senior Tempo. Tahun 1998, dia mendapat beasiswa Fulbright untuk kuliah S2 di School ...