Perempuan parlemen secara kuantitas meningkat pada periode 2009 -2014 dibandingkan periode sebelumnya 2004-2009 (10% menjadi 16 % di DPRD, 11% ke 18 % di DPR RI dan dari 21% meningkat ke 28% Anggota perempuan di DPD RI). Namun, fenomena peningkatan jumlah perempuan dalam ranah parlemen ini memunculkan pertanyaan penting, apakah jumlah perempuan yang membengkak itu berhasil menyuarakan kepentingan perempuan?
Belum banyak kajian tentang apakah peningkatan keterwakilan perempuan diiringi dengan lahirnya kebijakan- kebijakan yang selaras dengan kepentingan perempuan. Tapi, yang pasti peningkatan jumlah perempuan parlemen masih harus terus diupayakan hingga menggapai angka yang diharapkan 30%. Sebab, diyakini bahwa rendahnya keterwakilan perempuan di lembaga pengambil keputusan, baik di ranah eksekutif maupun legislatif, merupakan salah satu penyebab mengapa perjalanan demokratisasi di negeri ini tidak berlangsung mulus. Maka, perempuan parlemen harus merumuskan rencana aksi bagi peluang masa depannya di tengah berbagai kendala yang menghadang.
Sebuah kegiatan bertajuk Konsolidasi Nasional Jaringan Kaukus Perempuan Parlemen se-Indonesia (Konas) dilaksanakan, 20-23 April 2012, di Jakarta. Bukan hanya untuk mengevaluasi kinerja, tapi juga menyingkap peluang dan kendala. Konas diikuti oleh perempuan parlemen baik Anggota DPR RI, DPD RI maupun DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota seluruh Indonesia berjumlah 395 orang. Rangkaian kegiatan Konas terdiri dari seminar, workshop paralel, dan perumusan manifesto.
Konas menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah pergerakan perempuan parlemen di tataran nasional. Maka apa yang telah dibahas dan diformulasikan dalam Konas tersebut yang merupakan bagian dari dinamika perempuan dalam cakrawala politik Indonesia menjadi sangat penting untuk dituangkan ke dalam bentuk buku. Di bagian lain buku ini diungkapkan pula mengenai profil dari perempuan parlemen yang dianggap mewakili 33 provinsi se Indonesia, baik dari DPRD Propinsi/kabupaten/Kota dan nasional (DPR RI/DPD RI). Mereka yang ditampilkan diharapkan dapat menjadi potret ideal perempuan parlemen dalam mengoptimalisasi-kan perannya melaksanakan fungsi parlemen demi menyejahterakan rakyat.