7disabled
Stok Tidak Tersedia
Atau
Tambah ke Daftar Keinginan

Beritahukan jika produk ini tersedia kembali
Larasati
oleh Pramoedya Ananta Toer

Ketersediaan : Stock tidak tersedia

ISBN : 9799731291
ISBN13 : 9789799731296
Tanggal Terbit : 2003
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Lentera Dipantara
Halaman : 180
Dimensi : 130 mm x 200 mm



Deskripsi:
Roman ini merekam dengan elegan golak revolusi Indonesia pascaproklamasi. Tapi bukan dari optik "orang-orang besar dan orangp-orang tua", melainkan seorang perempuan. Larasati namanya. Seorang aktris panggung bintang film yang cantik. Dari kidah perjalanan perempuan inilah melela sebuah potret keksatriaan kaum mudah merebut hak merdeka dari tangan-tangan orang asing. Tidak hanya merekam kisah-kisah heroik kepahlawanan, namun juga lengkap dengan selagala kemunafikan kaum revolusioner, keloyoan, omong banyakl tapi kosong dari para pemimpin, pengkhianatan, dan sebenggol-sebenggol kisah percintaan. Dari sepenggalan perjalanan Ara-dari pedalaman (Yogyakarta) ke daerah pendudukan (jakarta)-terpotret bagaimana manusia-manusia Republik memandang revolusi.

Kategori dan Rangking Bestseller:

Tentang Pramoedya Ananta Toer:
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada 6 Februari 1925. Selain sebagai pengarang, bermacam profesi telah dijalani Pramoedya seperti juru ketik Kantor Berita Dome (1942-1944), wartawan majalah Sadar (1947) dab kenber "Lentera" suratkabar Bintang Timur (1962-1965), dan dosen di Fakultas Sastra Universitas Res Publica (1936-1965) serta di Akademi Jurnalistik Dr. Rivai (1964-1965).
Menulis sejak di bangku sekolah dasar, hingga kini Pramoedya telah menghasilakn tidek kurang dari 35 buku, fiksi maupun nonfiksi. Karya-karyanya yang terbit pada masa Order Baru dilarang oleh pemerintah. Karya puncaknya adalah tetralogi novel sejarah yang ditulis ketika Pramoedya ditahan selama 11 tahun di Pulau Buru, yakni Bumi Manusia (1981), Anak Semua bangsa (1981), Jejak Langkah (1985) dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Sejak 1950 sedikitnya 16 penghargaan dari dalam dan luar negeri telah diraihnya, antara lain dari Balai Pustaka (1951), Ramon Magsaysay (1995), PEN International (1998), dan Kota Fukuoka-Yokatopia Foundation (2000).
Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer adalah karya kelima Pramoedya yang diterbitkan oleh KPG, setelah Mangir (2000), Kronik Revolusi 1945, Kronik Revolusi 1946 (1999), Kronik Revolusi 1947 (2001), dan Kronik Revolusi 1948 (2003), yang disusun bersama Koesalah Soebagyo Toer dan Ediati Kamil, serta Cerita ...



Buku Lainnya oleh Pramoedya Ananta Toer:
Halaman 1 dari 1
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Rp. 60.000
Rp. 48.000
Stock di Gudang Supplier
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Rp. 60.000
Rp. 48.000
Stock di Gudang Supplier
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Rp. 45.000
Rp. 36.000
Stock di Gudang Supplier
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer dkk
Rp. 180.000
Rp. 144.000
Stock di Gudang Supplier
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Rp. 95.000
Rp. 76.000
Stock di Gudang Supplier
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
No Image Available
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
(2)
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer
(1)
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya A. Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya A. Toer
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya A. Toer dkk
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Pramoedya Ananta Toer, Koesalah Soebagyo Toer
Stock tidak tersedia
No Image Available
(Soft Cover)
oleh Pramoedya A. Toer dkk
Stock tidak tersedia
oleh Pramoedya Ananta Toer
Stock tidak tersedia

Review Konsumen:
5 -
4 100%
3 -
2 -
1 -
4.0
1 Review
Tulis Review Anda
Sekali lagi perempuan beraksi
oleh Amang Suramang pada Rabu, 12 Maret 2008
Larasati pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam surat Kabar Bintang Timur/Lampiran Budaya LENTERA 2 April 1960 s.d. 17 Mei 1960

Cerita berpusat pada diri Larasati (Ara), seorang aktris -- bintang film yang cantik di masa-awal kemerdekaan Indonesia. Sangat terkenal di zaman Belanda, tetapi ia rela meninggalkan dunia glamor itu, lalu ikut berjuang "dengan caranya sendiri" dengan menghibur para pemuda rakyat yang berjuang melawan penjajah.

Ini merupakan kali kesekian, Pram menokohkan seorang perempuan yang mengembang tugas sejarah. Hanya saja, karena dilekatkan pada tokoh seorang aktris film, cara Pram mengembangkan sisi perjuangannya menjadi agak lain dengan tokoh-tokoh perempuan dalam novel-novel Pram yang lain. Menjadi agak lain, karena figur Larasati adalah figur perempuan yang memilih berjuang dengan cara yang bisa ia lakukan: menghibur rakyat. Ia tak lagi ingin main dalam film-film propaganda Belanda meski penolakannya itu berarti tindakan yang bisa mengancam nyawanya sendiri.

Tetapi Larasati yang difigurkan Pram ini, meskipun ia keras hati, pemberani, bermulut lancang, namun penuh amarah dengan keterbatasannya sebagai perempuan. Apalagi bila yang dihadapinya adalah para pribumi yang mau menjadi opsir belanda. "Kalau aku lelaki -aku bisa berbuat banyak. Daerah ini bisa kalah berkali-kali. Tapi Revolusi tak bakal menyerah! Pada waktunya, mulut-mulut besar ini akan dibabat oleh Revolusi. Semua!"

Di dalam peperangan, yang ... Baca Selengkapnya
Apakah review ini bermanfaat bagi Anda?
Tulis Review Anda