7disabled
No Image Available
Stok Tidak Tersedia
Atau
Tambah ke Daftar Keinginan

Beritahukan jika produk ini tersedia kembali
Memandang Kematian di Mata (Soft Cover)
oleh W. Vajiramedhi

Ketersediaan : Stock tidak tersedia

Format : Soft Cover
ISBN : 9798727207
ISBN13 : 9789798727207
Tanggal Terbit : Maret 2008
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Karaniya
Halaman : 250
Dimensi : 125 mm x 185 mm



Deskripsi:
Kematian oleh masyarakat secara umum dianggap tabu untuk dibicarakan. Jika dalam interaksi sosial, ada orang yang mengucapkan kata kematian secara tidak sengaja, maka ia tidak akan lolos dari pandangan penuh tanda-tanya orang di sekelilingnya atas kata yang tidak seharusnya dilontarkan pada tempat dan waktu yang tidak tepat. Bagi masyarakat awam, kematian dianggap sebagai sesuatu yang sangat buruk dan tidak layak diperbincangkan kecuali dalam situasi yang sepenuhnya tidak bisa dihindari. Beginilah sebagian besar orang melihat kematian - sesuatu yang negatif, menakutkan, dan dimusuhi. Buddha mengajarkan murid-muridnya untuk berinteraksi dengan kematian dalam sikap yang positif. Ia mengajarkan bahwa pengetahuan akan kematian adalah sangat berguna dan bermanfaat untuk kehidupan. Ia juga menekankan pada latihan perenungan kematian sesering kita melakukan kegiatan "menarik dan menghembuskan napas". Siapa pun yang mengimplementasikan latihan ini dianggap sebagai praktisi kesadaran. Buku ini mengajak kita untuk saling mengingatkan satu sama lain agar tetap awas dan waspada - bahwa hari ini kita bisa saja menemui ajal. Untuk itu, apa saja yang berdampak baik bagi kita harus segera dilaksanakan, secepat mungkin. Kita harus mengungkapkan semua yang kita rasakan kepada siapa pun yang kita cintai. Bila belum sempat merawat orang tua kita, bergegaslah kembali untuk merawat mereka. Dengan berbicara mengenai kematian dua kali sehari, pagi dan malam hari, sebagaimana kita biasa menghormati bendera negara kita, alhasil warga kita akan menjadi jauh lebih baik, negara kita akan menjadi lebih bersih. Korupsi akan semakin berkurang karena saat berbicara tentang kematian, rasa takut terhadap kematian akan membuat orang jeri dan merasa bersalah saat ingin melakukan suatu tindak kejahatan. Rasa bersalah serta malu yang ditimbulkan akan membuat orang menyerah dan tidak melakukan perbuatan buruk lagi. Sekali Anda merasa bersalah atas perbuatan jahat, dan takut untuk melakukan perbuatan buruk, otomatis hidup Anda akan diliputi perbuatan saleh dan budi luhur. Buku ini juga mengungkapkan apa yang terjadi pada saat kematian. Secara umum orang mengetahui apa yang terjadi dengan fisik saat kematian. Jantung berhenti berdenyut, nafas tidak ada lagi, otak berhenti berfungsi, dan lain-lain. Namun apa yang terjadi dengan kesadaran dan perasaan? Juga dijelaskan mengenai berbagai jenis kematian beserta sebab-sebabnya. Ada orang yang wafat pada saat sedang berada di puncak kejayaan, ada yang meninggal tiba-tiba, dan ada yang yang menemui ajal setelah berusia sangat panjang. Apa yang menyebabkan semua ini terjadi? Di dalam buku ini juga diberikan petunjuk cara menghadapi kematian. Sesuatu yang tidak diajarkan di universitas kita. Sebelum tiba pada saat kematian, bagaimana caranya agar dapat meninggal secara indah? Bagaimana caranya meninggal agar dapat membuat orang layak terlahir sebagai manusia: semua ini telah diajarkan oleh Buddha. Ini merupakan program pendidikan yang paling lengkap di seluruh dunia, mengajarkan segala hal mulai dari kelahiran hingga kematian, dari topik yang terkecil hingga terbesar. Ada sebuah cerita Zen tentang satu orang kaya raya di dataran China. Ia pergi beramal dan memohon biksu memberi pemberkatan serta menuliskannya dalam secarik kertas. Biksu menuruti permintaan itu dan menuliskan empat pasang patah kata pemberkatan di atas secarik kertas. Setelah membaca kalimat pemberkatan, orang kaya raya menjadi pucat pasi dan jatuh bersujud di kakinya. Dengan wajah memerah karena marah ia mengumpat. "Bagaimana mungkin Guru menuliskan kata-kata ini untuk saya? Isinya sangat buruk. Bagaimana mungkin itu merupakan suatu berkat?" Tulisan pada kertas itu berbunyi: Kematian ayah; kematian ibu; kematian anak; kematian cucu. Biksu menjelaskan, "Saya tidak bermaksud untuk mengutuk Anda. Coba pikirkan, bila cucu Anda meninggal duluan, bagaimana penderitaan kakek dan neneknya? Bila anak meninggal duluan, bagaimana penderitaan orang tuanya? Tetapi bila ayah meninggal, kemudian ibu, disusul anaknya, dan terakhir cucu yang meninggal, itu merupakan urutan alamiah yang semestinya dari sebuah kematian. Tidak ada penderitaan." Dengan mengetahui hakikat kematian, kita akan dapat menjalani hidup ini dengan penuh, ikhlas, dan tanpa kemelekatan. Semua orang akan dinilai sama pentingnya. Semua pekerjaan akan dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran. Pikiran tidak akan dibiarkan dipenuhi syak wasangka dan delusi. Kecemasan atas apa yang akan terjadi akan sirna. Kemarahan akan reda. Orang sebaliknya akan fokus untuk selalu melakukan kebajikan dan berpikir positif pada saat ini. Pilihan dilakukan dengan bijaksana. Tidak lagi urusan kecil diributkan dan menyita perhatian serta waktu. Semua dilakukan dengan niat tulus membahagiakan orang lain. Kebahagiaan diri sendiri datang dari motivasi ikhlas membawa kebahagiaan bagi orang lain. Diri sendiri akan menjadi lebih siap menghadapi kehidupan berikutnya hingga mencapai keadaan Nibbana. Dunia menjadi damai karena orang akan "Melakukan yang terbaik hari ini sebab siapa tahu kematian akan menjemput esok hari." *** "Kecerobohan adalah suatu jalan menuju kematian. Kesadaran merupakan jalan terbebas dari kematian. Seseorang yang sadar tidak akan pernah mati. Seseorang yang lengah tidak ada bedanya dengan orang mati."

Kategori dan Rangking Bestseller:

Review Konsumen:
5 -
4 -
3 -
2 -
1 -
Jadilah yang Pertama untuk Review
Tulis Review Anda
Tulis Review Anda