Dari sebutir peluru di Sarajevo hingga gerbong kereta di Rethondes yang menyaksikan penyerahan diri—buku ini menghidupkan kembali Perang Dunia I secara utuh, empat tahun paling kelam dalam sejarah modern, saat dunia yang damai runtuh oleh ambisi segelintir penguasa. Setiap babaknya dikisahkan dengan alur yang hidup: ultimatum yang angkuh, aliansi yang saling mengunci, dan jutaan nyawa yang melayang di parit-parit Ypres dan Verdun.
Inilah kisah tentang bagaimana satu tembakan bisa menyulut kobaran yang menyeret seluruh dunia: kemenangan kilat yang diimpikan Jerman justru membeku menjadi empat tahun kengerian tiada tara; Rusia yang letih oleh otokrasi justru dihantam revolusi dari dalam, sementara Amerika Serikat datang bagai fajar bagi Sekutu yang nyaris kehabisan napas.
Dan pada akhirnya, buku ini menyaksikan keruntuhan yang tak terelakkan—satu demi satu benteng Poros tumbang, tiga dinasti besar dunia lenyap dari panggung sejarah, hingga dentuman terakhir bergema pada jam kesebelas, hari kesebelas, bulan kesebelas 1918. Lebih dari rentetan pertempuran, inilah sejarah tentang keangkuhan, pengorbanan, dan pertanyaan abadi: benarkah ini “perang untuk mengakhiri segala perang”?