7disabled
Stok Tidak Tersedia
Atau
Tambah ke Daftar Keinginan

Beritahukan jika produk ini tersedia kembali
Menulis Membaca Kehidupan (Soft Cover)
oleh Kristin Samah

Ketersediaan : Stock tidak tersedia

Format : Soft Cover
ISBN13 : 9786020673820
Tanggal Terbit : 29 Oktober 2023
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Dimensi : 140 mm x 210 mm



Deskripsi:
Di tengah zaman yang serba-digital, serba-instan ini, sesungguhnya manusia sedang menghadapi sebuah paradoks. Hidup menjadi lebih gampang, tapi pada saat yang sama juga bertambah sulit. Kita dimanjakan dengan kemudahan-kemudahan. Mudah mendapatkan informasi, mudah berkoneksi, dan mudah menemukan fasilitas untuk membuat hasrat hedonis, yang Sigmund Freud sebut sebagai "id", terpuaskan. Namun demikian manusia juga menghadapi kesulitan untuk mendapatkan vitamin jiwa berupa kehangatan antar-manusia. Senyum dan keramahan tulus yang banyak diajarkan generasi boomers, kini dipertanyakan untuk apa, bahkan hanya dilakukan sebagai transaksi. Walhasil, terasinglah kita di tengah keramaian. Mudah sekali kita merasa kesepian. Tiba-tiba kita sudah jauh melangkah menjauhi diri dan menjadi asing dengan diri sendiri. Dalam situasi demikian, buku Menulis Membaca Kehidupan mengajak kita untuk kembali ke diri sendiri. Menuliskan atau meletakkan pikiran dan perasaan kita pada selembar kertas adalah perilaku konkret untuk kembali ke diri sendiri; kembali menyapa dan ramah pada diri sendiri. Kita tidak lagi menjadi seorang diri—dewean, karena ada diri lain yang berhikmat sebagai teman untuk berefleksi, teman mengobrol dengan hangat, tanpa takut dinilai. Ungkapan tertulis tentang diri kepada diri ini juga bisa membuat self-awareness meningkat. Kita makin tahu situasi, makin paham di mana posisi kita berdiri. Buku ini menjadi begitu relevan karena membantu menjawab isu kekinian. Isu kesehatan mental. Isu yang saat ini menjadi topik obrolan banyak kalangan, tua pun muda. Penulis membahas bagaimana deraan media sosial membuat kita menjadi pribadi yang setiap saat dipenuhi kecemasan. Ketakutan ketinggalan zaman, takut jadi kuno. Ketakutan dan kecemasan itu munculnya begitu saja, tanpa kita sadari. Di sinilah menuliskan perasaan dan pikiran menjadi piranti sederhana namun berguna karena kita bisa becermin kepada diri yang jujur. Hasilnya, kita pun dibantu untuk menemukan kebahagiaan yang autentik, bukan berlagak bahagia dengan tampil ceria namun pedih di lubuk hati. Betapa menulis itu membantu kita melepaskan diri dari cengkeraman emosi negatif yang menyiksa, bahkan perasaan terluka yang kita simpan sejak lama juga diangkat oleh penulis. Selain menamai emosi (naming emotions) yang terbukti menjadi cara cepat untuk menurunkan intensitas emosi, saat menulis “bersama” diri, kita juga dibimbing untuk lebih jernih dalam melihat dan memvalidasi emosi-emosi kita. Dalam hal inilah terlihat bahwa sebenarnya setiap kita—sekecil apa pun, memiliki daya untuk menyembuhkan diri sendiri. Jika sebelumnya kepahitan trauma membuat kita mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), setelah kita obrolkan melalui tulisan ternyata muncul percikan kebijaksanaan baru. Ketika berani ber-letting go, tak lagi kita mengalami PTSD, namun bisa jadi malah PTG—post traumatic growth. Dari luka kita tumbuh. Tiba-tiba bahkan muncul kenyataan bahwa luka yang kita alami itu kini memiliki daya sembuh juga bagi sesama kita yang terluka. Bercengkerama dengan diri sendiri tidak hanya saat kita mengalami emosi negatif. Kebahagiaan menjadi lebih utuh ketika kita tuangkan dalam tulisan. Penulis menjelaskan bahwa menuliskan nama-nama yang telah memberikan pengaruh positif dalam rentang kehidupan kita, akan memunculkan rasa syukur karena kita memiliki sumber daya yang memberikan dukungan dengan tulus. Lalu tersadar juga betapa kita dicintai. Jangan lupa, menceritakan tekanan perasaan secara tertulis tidak hanya bersangkut paut dengan kesehatan jiwa, tetapi juga raga. Dengan menulis, tubuh yang semula mudah tegang, gampang stres dalam bentuk gangguan psikosomatis, menjadi lebih bersahabat. Lebih santai. Akhirnya, tentu saja kita menjadi lebih sehat. Bagi kita yang memiliki kecenderungan sulit menulis hingga tuntas, tidak perlu kecil hati. Menulis tentang diri sendiri tetap bisa dilakukan. Tentu saja kesetiaan untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai perlu didisiplinkan agar hasilnya optimal. Namun, tulisan yang tidak tuntas bisa jadi malah menjadi penanda bahwa kita sudah merasa nyaman dengan emosi itu. Jadi tetaplah menulis.

Kategori dan Rangking Bestseller:

Buku Lainnya oleh Kristin Samah:
Halaman 1 dari 1
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Rp. 115.000
Rp. 92.000
Stock di Gudang Supplier
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Para Wartawan, Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah, Chris Nusatya
Stock tidak tersedia
No Image Available
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
No Image Available
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
No Image Available
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah, Bayu
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah, Fransisca Ria Susanti
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah, Fransisca Ria Susanti
Stock tidak tersedia
(Soft Cover)
oleh Kristin Samah, Fransisca Ria Susanti
Stock tidak tersedia

Review Konsumen:
5 -
4 -
3 -
2 -
1 -
Jadilah yang Pertama untuk Review
Tulis Review Anda
Tulis Review Anda