Perempuan Bali itu, Luh, perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Hanya dengan cara itu mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup, dan harus tetap hidup. Keringat mereka adalah api. Dari keringat itulah asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri.
***
Seperti Arundhati Roy dan banyak penulis perempuan di ”Dunia Ketiga”, Oka Rusmini mengusik kemapanan melalui keberaniannya memandang budayanya sendiri dengan kritis. Menarik kita bandingkan diskriminasi gender dan kelas dalam Tarian Bumi dan The God of Small Things. —Melanie Budianta
Tarian Bumi menjadi fenomena sekaligus kontroversi. Novel ini dengan sangat terbuka menghantam keadaan yang melingkupi kehidupan perempuan di kalangan bangsawan Bali yang masih sangat feodal. Dalam konteks adat-istiadat Bali, Tarian Bumi dipandang sebagai sebuah pemberontakan kepada adat. —Tempo, 9 Mei 2004
Jika novelis Inggris, Graham Greene, merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis R.K. Narayan, maka tak berlebihan jika kita pun merasa telah menemukan Bali yang sebenarnya melalui novel ini. —Horison, Juli 2001
Telaga adalah potret pemberontakan perempuan Bali terhadap praktik-praktik budaya yang menindas dengan caranya sendiri; menjalani hidupnya di antara ambang penerimaan dan ketidakpatuhan, di antara penyerahan dan kebebasan. Tetapi dalam hidup tidak pernah ada kebebasan yang sempurna. Juga bagi Telaga. Oka Rusmini menggambarkan perjalanan Telaga dalam dialog yang sangat jujur. Kalimatnya lugas dan bernas dan setiap pilihan katanya memaknai realitas sosial yang sedang berjalan. Novel ini lebih dari sekadar bacaan. Ia menjadi bahan yang layak untuk kajian multikultural. —Maria Hartiningsih
oleh Dyah Merta, Happy Salma, Harsutejo, Linda Christanty, Martin Aleida, Oka Rusmini, Pranita Dewi, Putu Oka Sukanta, Rieke Diah Pitaloka, Sihar Ramses Simatupang, Soeprijadi Tomodihardjo, T Iskandar AS, Yonathan Rahardjo