Siapa pun yang ingin memahami bagaimana Singapura terus mampu tampil melampaui bobotnya di panggung dunia perlu membaca Musings karya George Yeo.
Terlahir sebagai warga Singapura, memiliki keterikatan budaya dengan Tiongkok melalui orangtua dan leluhurnya, beriman dan berpendidikan Katolik, serta menempuh studi di universitas-universitas terkemuka di Inggris dan Amerika Serikat, George adalah salah satu Menteri Luar Negeri paling menonjol di Asia. Hubungan pribadi yang erat dan keterlibatannya dalam diplomasi di berbagai belahan dunia, dipadukan dengan intelektualitas yang tajam dan kepekaan terhadap arus sejarah serta budaya yang mendalam, menjadikannya penafsir yang tak tergantikan dalam era pasca-globalisasi yang penuh tantangan ini.
Yang paling mengesankan adalah sudut pandangannya yang tak lazim dan multiperspektif dalam memandang hubungan AS-Tiongkok, dengan memanfaatkan pemahamannya yang mendalam tentang ekonomi-ekonomi di kawasan Lingkar Pasifik—Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Asia Tenggara, dan Australia. Pandangan yang langka terhadap isu besar zaman ini—disampaikan oleh seorang pemikir Asia yang kosmopolitan dan sekaligus maestro diplomasi internasional—merupakan kontribusi yang amat berharga bagi terbangunnya pemahaman bersama, sesuatu yang kini sangat dirindukan.
Tulisannya dibagi menjadi tiga buku. Buku Dua dimulai dengan Vatikan dan Islam, sebelum menjelajah ke Eropa. Dominasi Eropa selama beberapa abad telah membentuk dunia seperti yang kita kenal sekarang. Kekuatan Amerika Serikat setelah Perang Dunia II memperpanjang gelombang pengaruh Barat yang mencapai puncaknya ketika Uni Soviet runtuh. Kini, gelombang itu tengah mencapai titik jenuh. Dunia berkembang yang mencakup lebih dari 80% populasi global mulai bangkit. Kebangkitan Tiongkok yang dramatis telah mengguncang keseimbangan lama. Dampak kebangkitan ini terhadap Kristen, Islam, Eropa, Afrika, Amerika Latin, Asia, dan Amerika Serikat dibahas secara bergantian. Buku ini ditutup dengan bahasan tentang ASEAN, "negeri di bawah angin". Kita tengah berada dalam masa pasang surut, ketika gejolak global membawa ancaman sekaligus peluang.