Siapa pun yang ingin memahami bagaimana Singapura terus mampu tampil melampaui bobotnya di panggung dunia perlu membaca Musings karya George Yeo.
Lahir sebagai warga Singapura, memiliki keterikatan budaya dengan Tiongkok melalui orangtua dan leluhurnya, beriman dan berpendidikan Katolik, serta menempuh studi di universitas-universitas terkemuka di Inggris dan Amerika Serikat, George adalah salah satu Menteri Luar Negeri paling menonjol di Asia. Hubungan pribadi yang erat dan keterlibatannya dalam diplomasi di berbagai belahan dunia, dipadukan dengan intelektualitas yang tajam dan kepekaan terhadap arus sejarah serta budaya yang mendalam, menjadikannya penafsir yang tak tergantikan dalam era pasca-globalisasi yang penuh tantangan ini.
Yang paling mengesankan adalah sudut pandang George yang tak lazim dan multiperspektif dalam memandang hubungan AS-Tiongkok, dengan memanfaatkan pemahamannya yang mendalam tentang ekonomi-ekonomi di kawasan Lingkar Pasifik—Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Asia Tenggara, dan Australia. Pandangan yang langka terhadap isu besar zaman ini—disampaikan oleh seorang pemikir Asia yang kosmopolitan dan sekaligus maestro diplomasi internasional—merupakan kontribusi yang amat berharga bagi terbangunnya pemahaman bersama, sesuatu yang kini sangat dirindukan.
Tulisannya dibagi menjadi tiga buku. Buku Tiga memperlihatkan sisi George Yeo yang jarang diketahui publik—minatnya terhadap kaligrafi dan taijigong, misalnya; pemahamannya tentang medan qi; serta pendekatannya terhadap agama dan Tuhan. Dalam bab terakhir, ia mengajak kita kembali ke titik awal, menyempurnakan satu lingkaran penuh—dari bab pertama Buku Satu tentang identitas, hingga bab penutup yang menyoroti kemanusiaan bersama yang kita miliki. Pada titik inilah, ia menyatu dengan setiap insan lain dalam pencarian makna hidup.