Dalam kisah penutup yang memukau dan sudah lama dinanti untuk seri Mortal Instruments ini, Clary dan teman-temannya memerangi kejahatan terdahsyat yang pernah mereka hadapi: kakak Clary sendiri. Sebastian Morgenstern menjalankan rencana kejinya, secara sistematis dia membuat Pemburu Bayangan berbalik menyerang Pemburu Bayangan. Dengan Piala Infernal, dia mengubah Pemburu Bayangan menjadi makhluk-makhluk mengerikan, mencerai-beraikan keluarga dan kekasih, sementara barisan pasukan Yang Tergelapkan-nya membengkak. Kaum Pemburu Bayangan yang digempur serangan mundur ke Idris—tetapi, bahkan menara-menara iblis Alicante yang masyhur itu tidak mampu mengadang Sebastian. Dan dengan para Nephilim terkurung di Idris, siapa yang akan menjaga dunia dari iblis-iblis?
Ketika salah satu pengkhianatan terbesar yang pernah diketahui kaum Nephilim terbongkar, Clary, Jace, Isabelle, Simon, dan Alec harus melarikan diri—walaupun perjalanan itu membawa mereka jauh ke dalam alam iblis, tempat tak satu pun Pemburu Bayangan pernah menjejakkan kaki, dan tak satu pun manusia pernah kembali dari sana….
Cassandra Clare dilahirkan oleh orang tua kebangsaan Amerika di Tehran.
Ditahun 2004 Clare mulai mengerjakan novel pertamanya yang akan diterbitkan City of Bones, yang terinspirasi dari kehidupan Manhattan.
City of Bones, merupakan cerita fantasi kontemporer yang menceritakan mengenaik karakter-karakter Clary Fray, Jace Wayland, dan Simon Lewis menjadi buku laris New York saat penerbitannya tahun 2007.
City of Ashes dan City of Glass akan menyelesaikan cerita trilogi ini. Ditahun 2009, buku terakhir, City of Fallen Angels telah diumumkan penerbitannya.
Rating: 3,5
Dibandingkan dengan TMI 1-5, cerita di buku terakhir ini terkesan lebih 'aman', kurang unsur kejutan, dan lebih mudah ditebak.
I don't feel like there's much fire in me reading this City of Heavenly Fire.
Untuk ukuran buku penutup bisa dibilangkan cukup memuaskan, meskipun di beberapa bagian ada 'spoiler' yang mengarahkan kita untuk membaca prequel-nya di The Infernal Devices (duh).
Overall, Simon and Magnus are still my favorites.
Yang mengecewakan adalah versi Bahasa Indonesia ini kurang baik dari sisi pengeditan karena ada banyak sekali pemenggalan kata yang salah.
But for those happy-ending-lovers, this book won't disappoint you.
olehLuh Nyoman MayaswaripadaSabtu, 7 Februari 2015
Sejak baca buku pertama sampai kelima, sudah yakin buku keenamnya bakal gak kalah mendebarkan dari buku-buku sebelumnya. oke, saya berharap kriman saya cepat sampai =3=