Seperti besi tua yang berkarat, tanpa diapa-apakan pasti
tenggelam ke dasar lautan. Penderitaan juga serupa, bila
manusia hanya mengeluh serta tidak melakukan apa-apa
maka penderitaan akan membawa manusia tenggelam di alam
bawah (binatang, setan, neraka)setelah kematian.
Tapi bila besi tuannya dihaluskan dan diolah menjadi kapal
laut, ia tidak saja membuat manusia batal tenggelam tapi juga
bisa menjadi kendaraan untuk pergi ke tempat yang jauh.
Meditasi yang dianjurkan buku ini juga serupa, besi tua
penderitaan diolah melalui ketenangan samatha, dibentuk
dengan pandangan terang wipassana dan dihaluskan dengan
praktik kasih sayang.
Hasilnya, penderitaan menjadi kendaraan spiritual
mengagumkan untuk pulang ke rumah pencerahan. Di rumah
pencerahan, kehidupan setenang pepohonan (bertumbuh
ikhlas mendekati cahaya) serta selembut rerumputan (selalu
rindu berbagi kasih sayang).
Di rumah ini, manusia bisa menyembuhkan dan
mendamaikan dirinya dari dalam.
Sebagai `musafir` kehidupan yang tinggi kesadarannya, Gede Prama memulai kariernya di lahan pengetahuan dan profesi yang sarat sains dan praktik manajemen. Namun dalam kiprah selanjutnya, ia lebih menerapkan pendekatan spiritual dalam pengembangan organisasi maupun bisnis. Alumni Universitas Leicester dan INSEAD ini kini memimpin sebuah perusahaan swasta nasional terkemuka, dan Dynamics Consulting yang bergerak di bidang pengembangan SDM. Gede Prama juga menjadi salah seorang pembicara publik yang paling diminati.