"Kalau sampai waktuku// Kutahu tak seorang 'kan merayu// Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu!//Aku ini binatang jalang//Dari kumpulan terbuang//...//Aku mau hidup seribu tahun lagi."
Chairil Anwar, sang "binatang jalang" dalam kumpulannya terbuang ini merupakan sosok penyair yang penuh totalitas dalam berkarya. la hidup untuk puisi! Bukan berpuisi untuk hidup! Prinsip inilah yang mengantarkannya menjadi sang pendobrak angkatan pujangga baru dan menjadi pelopor angkatan '45.
Chairil Anwar dan karyanya bakal tetap menggaung di jagat sastra Indonesia sampai kapan pun. Dan tetap dengan semangat yang sama: aku ingin hidup seribu tahun lagi!
Buku Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus ini berisi sajak-sajak terkemuka Chairil Anwar. Kumpulan sajak ini mencerminkan perjuangan yang tak pernah padam dan terus membahana dalam perjalanan waktu. Meski ia telah lama pergi, karya-karyanya mengabadi hingga kini.
Chairil Anwar adalah seorang penyair besar Indonesia yang karya-karyanya abadi sepanjang zaman. Ia lahir di Medan, 26 Juni 1922 dan meninggal dengan usia yang sangat muda pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta. Pendidikan yang sempat ditekuninya adalah HIS dan MULO (tidak tamat). Ia adalah ujung tombak Angkatan 45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi. Tidak seperti penyair angkatan terdahulu, Pujangga Baru, yang cenderung mendayu-dayu dan romantis, kata-kata dalam puisi-puisi Chairil terlihat sangat lugas, solid dan kuat. Salah satu puisinya yang paling sering dideklamasikan berjudul Aku dengan lariknya yang terkenal "Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!". Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Buku kumpulan puisinya yang diterbitkan Gramedia adalah Aku ini Binatang Jalang (1986).