Ayah mungkin bukan sosok yang fasih dalam merangkai kata dan bersikap manis. Bukan juga sosok yang paham 'benar' akan pentingnya sebuah kehadiran. Bahkan, di sisi lain, tak jarang Ayah justru hadir sebagai guru kehidupan.
Ayah yang bahasa cintanya adalah tetesan keringat di bawah terik matahari, langkah kaki di tengah hujan badai, dan tangan yang kasar demi memastikan 'rumah' tetap hangat.
Kurniawan Gunadi percaya bahwa karya yang baik adalah karya yang berasal dari hati, juga tumbuh bersama dengan pembacanya. Sejak 2010, saat mulai menulis di blog kurniawangunadi.tumblr.com hingga saat ini. Tulisan-tulisannya menjadi rekam jejak bertumbuhnya seorang remaja yang penuh keresahan hingga mencapai fase bertanggung jawab sebagai suami dan seorang ayah.
Pada tahun 2014, buku pertamanya lahir, yang menandai awal keseriusannya sebagai penulis. Lulusan Desain Produk ITB ini putar haluan dari dunia desain ke dunia kepenulisan.