| Harga Resmi | : | Rp. 48.000 |
| Harga | : | Rp. 38.400 (20% OFF) |
| Ketersediaan | : | Stock di Gudang Supplier |
| Format | : | Soft Cover |
| ISBN | : | 6347102331 |
| ISBN13 | : | 9786347102331 |
| Tanggal Terbit | : | Oktober 2025 |
| Bahasa | : | Indonesia |
| Penerbit | : | NARASI |
Apa yang harus dilakukan bangsa yang baru saja merdeka tetapi belum berdaya? Bagaimana membangun ekonomi nasional yang berpihak pada rakyat, bukan pada sisa-sisa kolonialisme dan kepen-tingan asing? Dalam Rencana Ekonomi Berjuang. Tan Malaka men-jawab pertanyaan-pertanyaan mendesak itu dengan pemikiran yang radikal, jernih, dan berpijak kuat pada realitas rakyat.
Buku ini lahir dari sebuah kebutuhan mendesak-membangun sistem ekonomi nasional yang bebas dari cengkeraman feodalisme, kapitalisme kolonial, dan ketergantungan pada kekuatan asing. Tan Malaka, dengan kejernihan analisis dan keberaniannya menentang arus, menyusun cetak biru ekonomi perjuangan yang menempatkan buruh, tani, dan rakyat kecil sebagai pelaku utama pembangunan. Rencana Ekonomi Berjuang adalah visi utuh tentang masa depan: tentang industrialisasi nasional, reformasi agraria, pendidikan tek-nis, dan kontrol rakyat atas alat-alat produksi.
Dengan bahasa yang tajam dan bernas. Tan Malaka mengkritik sistem ekonomi yang timpang. Ia menolak politik setengah hati dan ekonomi setengah merdeka. Baginya, revolusi politik tanpa revolusi ekonomi adalah separuh kemerdekaan yang akan cepat hancur oleh manipulasi pasar, utang luar negeri, dan kooptasi asing. Sebuah ma-nifestasi semangat kemandirian dan keberanian berpikir melawan arus. Tan Malaka tidak menulis dari balik meja birokrat, tetapi dari garis depan perjuangan, dengan keyakinan bahwa ekonomi bukan sekadar angka dan kebijakan, melainkan soal hidup matinya nasib rakyat. Rencana Ekonomi Berjuang adalah ajakan untuk kembali kepada cita-cita awal kemerdekaan: Menciptakan tatanan ekonomi yang adil, berdaulat, dan berpihak pada mayoritas yang tertindas.
Bagi siapa pun yang peduli pada nasib bangsa, buku ini adalah bacaan wajib terutama para generasi muda yang mencari arah di tengah kabut neoliberalisme, suara Tan Malaka dari masa lalu justru terasa semakin relevan hari ini.