| Soft Cover, Januari 2007 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Hard Cover, Januari 2007 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Hard Cover, Januari 2007 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Buku karya K.H. Zulfa Mustofa ini bisa dikatakan sebagai biografi resmi dan terlengkap yang membahas tuntas sejarah sosial, intelektual, spiritual, sanad guru, jejaring murid, pemikiran kebangsaan, inspirasi semangat antiimperialisme dan kolonialisme Sang Pemimpin Ulama Hijaz ini.
Buku ini semakin menarik dan asyik, penulis menyajikan 57 bait nazam dalam Bahar Rajaz menceritakan sejarah hidup singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani. Wajib dibaca oleh warga Nahdlatul Ulama dan seluruh masyarakat Indonesia.
">
Buku karya K.H. Zulfa Mustofa ini bisa dikatakan sebagai biografi resmi dan terlengkap yang membahas tuntas sejarah sosial, intelektual, spiritual, sanad guru, jejaring murid, pemikiran kebangsaan, inspirasi semangat antiimperialisme dan kolonialisme Sang Pemimpin Ulama Hijaz ini.
Buku ini semakin menarik dan asyik, penulis menyajikan 57 bait nazam dalam Bahar Rajaz menceritakan sejarah hidup singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani. Wajib dibaca oleh warga Nahdlatul Ulama dan seluruh masyarakat Indonesia.
">
Buku karya K.H. Zulfa Mustofa ini bisa dikatakan sebagai biografi resmi dan terlengkap yang membahas tuntas sejarah sosial, intelektual, spiritual, sanad guru, jejaring murid, pemikiran kebangsaan, inspirasi semangat antiimperialisme dan kolonialisme Sang Pemimpin Ulama Hijaz ini.
Buku ini semakin menarik dan asyik, penulis menyajikan 57 bait nazam dalam Bahar Rajaz menceritakan sejarah hidup singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani. Wajib dibaca oleh warga Nahdlatul Ulama dan seluruh masyarakat Indonesia.
">
Buku karya K.H. Zulfa Mustofa ini bisa dikatakan sebagai biografi resmi dan terlengkap yang membahas tuntas sejarah sosial, intelektual, spiritual, sanad guru, jejaring murid, pemikiran kebangsaan, inspirasi semangat antiimperialisme dan kolonialisme Sang Pemimpin Ulama Hijaz ini.
Buku ini semakin menarik dan asyik, penulis menyajikan 57 bait nazam dalam Bahar Rajaz menceritakan sejarah hidup singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani. Wajib dibaca oleh warga Nahdlatul Ulama dan seluruh masyarakat Indonesia.
Presiden Pertama RI Sukarno dan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev itu bersahabat erat, cenderung intim. Kendati demikian, mereka tidak pernah saling memengaruhi secara ideologi. Mereka kukuh pada pandangan politik masing-masing: Sukarno teguh pada sosialisme khas Indonesia yang berketuhanan, Khrushchev kukuh dengan sosialisme-komunis-ateisnya. Maka, kalau masih ada yang berpikiran jika Sukarno adalah seorang komunis, dan itu gara-gara dipengaruhi Khrushchev, jelas dia sangat perlu membaca buku ini.
Banyak fakta sejarah membuktikan jika Sukarno dan Khrushchev menempatkan persahabatan mereka lebih tinggi daripada sekadar urusan politik. Fakta-fakta seperti itulah yang selama ini hampir tidak pernah sampai kepada publik, karena wacana yang membahasnya sangat minim. Untungnya Sigit Aris Prasetyo, diplomat muda yang cukup cermat membaca sejarah, berhasil menggali, mengumpulkan, dan menjahit fakta-fakta sejarah itu, lalu mengolahnya menjadi sebuah bacaan yang bergizi.
Buku ini memberi kita pelajaran penting yang dilupakan oleh kebanyakan manusia modern, yang mabuk terombang-ambing badai globalisasi-kapitalistik: Bahwa kemanusiaan itu lebih penting daripada pertarungan ideologi politik. Itulah pesan penting dari persahabatan Sukarno dan Khrushchev.
...Setelah kemunculannya membawakan lagu Indonesia Raya—yang disebutnya sebagai lagu kebangsaan—pada Kongres Pemuda Kedua tahun 1928, hidup Wage Rudolf Supratman berubah. Agen-agen PID (Dinas Intelijen Kepolisian Hindia Belanda) terus mengawasinya. Upaya Supratman menyebarkan lagu itu pun selalu membentur dinding, mulai dari menyebarkan partitur lagu itu lewat surat kabar Sin Po, hingga merekamnya dalam piringan hitam. Surat kabarnya disita dan piringan hitamnya dimusnahkan.
Di tengah gejolak politik, kisah cinta Supratman dengan Mujenah juga tak mulus. Ia akhirnya menemukan sosok pengganti bernama Salamah. Sayangnya, keluarga Supratman tak merestui. Kisah cinta keduanya begitu menghanyutkan dan mengharu biru di tengah kehidupan mereka yang serba pas-pasan.
Sementara itu, Pemerintah Hindia Belanda tak henti menyebar kabar bohong. Lagu Indonesia Raya disebut sebagai lagu jiplakan. Tak pelak lagi, Supratman diburu. Ia meninggalkan Batavia, tapi agen-agen PID itu selalu mengikuti ke mana pun ia bersembunyi!
Endorsement:
“Roman tentang W.R. Supratman ini menjadi penting untuk siapa pun yang ingin melihat awal mula dan merawat Indonesia, semua berawal dari karya cipta berupa sebuah lagu.”
—Glenn Fredly, musisi, penggagas Voice of The East (VOTE)
“W.R. Supratman, sang pencipta lagu Indonesia Raya, seringkali hanya diingat semata-mata sebagai pencipta lagu. Padahal, proses menuju penciptaan lagu tersebut tidak mudah. Kebebasan ia pertaruhkan untuk mengekspresikan kecintaannya pada Indonesia melalui seni. Generasi muda harus membaca lagi tentang W.R. Supratman agar kita paham sejarah seorang musisi yang lagunya mengumandangkan nasionalisme di Indonesia hingga hari ini.”
—Tsamara Amany Alatas, aktifis perempuan, penulis buku Curhat Perempuan
“Kau adalah kujang mungil, ditempa dari wesi kuning, dari bumi Sunda berada, melanglang menunjuk langit,” getar nini paraji yang mengiringi sukma dan asma Syarif Hidayatullah. Ia kemudian menjelma menjadi seorang raja yang juga ulama–kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati–meneruskan jejak para leluhur. Bila langkah Nyimas Rarasantang–ibunda Sunan Gunung Jati–melakukan perjalanan spiritual mencari Nur Muhammad dimulai dari Keraton Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, Sunan Gunung Jati menempuh dari arah sebaliknya. Pertemuan dengan Sunan Ampel merupakan titik awal pembagian daerah dakwah, sekaligus upaya rekonsiliasi Sunda-Jawa pasca Perang Bubat.
Bagaimana Sunan Gunung Jati menghadapi eyangnya sendiri di Pakuan Pajajaran yang berbeda keyakinan? Nglurug tanpa bala kalah tanpa ngasorake dan desa mengurung kota, langkah yang kemudian ditempuhnya. Langkah ini tidak saja berhasil menyebarkan Islam kepada leluhur, tapi juga memperkuat barisan pertahanan. Sehingga ketika medan jihad terbuka, laskar Islam di bawah komandonya, tidak saja berhasil mengusir Portugis tapi sekaligus meruntuhkan Pakuan Pajajaran. Sikapnya sebagai pandhita ratu terlukis kuat saat menghadapi ulama kontroversial–Syaikh Siti Jenar. Ketika Syaikh Siti Jenar diundang ke Cirebon dan mengatakan: ‘Tidak ada Siti Jenar, yang ada Gusti Allah’, Sunan Gunung Jati pun membalas: ‘Ya sudah panggil Gusti Allah ke sini.’ Kekerabatan kedua ulama ini tidak semata terikat oleh Syaikh Nurjati–pamanda Syaikh Siti Jenar–tapi buah dari saling memahami ajaran yang berbeda. Sunan Gunung Jati termasuk yang ‘pasang badan’ pada saat Dewan Wali hendak ‘mengadili’ Syaikh Siti Jenar.
“Kau bicara seperti itu kepada santri-santrimu?”
“Tentu saja, karena ilmu ruhani harus diajarkan kepada semua orang. Dengan membuka tabir itulah orang-orang akan mengetahui hakikat kehidupan dan rahasia hidupnya.”
“Kalau badan tidak ada sementara yang aku lihat adalah badan, siapa sesungguhnya yang sedang bicara denganku sekarang ini?” pancing Sunan Gunung Jati.
“Aku mengajarkan ilmu agar manusia benar-benar dapat merasakan kemanunggalan. Selain kemanunggalan hanyalah bangkai”, ujar Syaikh Siti Jenar.
...
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||




Keranjang






