| Hard Cover | Rp. 132.250 | Rp. 105.800 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 138.000 | Rp. 110.400 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover | Rp. 79.000 | Rp. 63.200 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 15.000 | Rp. 12.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover | Rp. 35.000 | Rp. 28.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 25.000 | Rp. 20.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Hard Cover | Rp. 175.000 | Rp. 140.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover | Rp. 40.250 | Rp. 32.200 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
Tetapi, Ibu ingin Kumi belajar mandi sendiri.
Apakah Kumi bisa mandi sendiri?
Kumi wants to take a bath.
But, Mom wants him to take a bath by himself.
Can he do it?
">
Kumi ingin mandi.
Tetapi, Ibu ingin Kumi belajar mandi sendiri.
Apakah Kumi bisa mandi sendiri?
Kumi wants to take a bath.
But, Mom wants him to take a bath by himself.
Can he do it?
">
Kumi ingin mandi.
Tetapi, Ibu ingin Kumi belajar mandi sendiri.
Apakah Kumi bisa mandi sendiri?
Kumi wants to take a bath.
But, Mom wants him to take a bath by himself.
Can he do it?
">
Kumi ingin mandi.
Tetapi, Ibu ingin Kumi belajar mandi sendiri.
Apakah Kumi bisa mandi sendiri?
Kumi wants to take a bath.
But, Mom wants him to take a bath by himself.
Can he do it?
...Kumi sudah bisa makan sendiri.
Tetapi, Kumi belum bisa makan ikan sendiri.
Dia takut terkena duri.
Ah, bagaimana cara Kumi agar bisa makan ikan, ya?
Kumi has been able to eat by himself.
Still, he can't eat fish by himself.
He's worried of the fish bones.
Hm, what should he do to eat fish safely?
">
Kumi sudah bisa makan sendiri.
Tetapi, Kumi belum bisa makan ikan sendiri.
Dia takut terkena duri.
Ah, bagaimana cara Kumi agar bisa makan ikan, ya?
Kumi has been able to eat by himself.
Still, he can't eat fish by himself.
He's worried of the fish bones.
Hm, what should he do to eat fish safely?
">
Kumi sudah bisa makan sendiri.
Tetapi, Kumi belum bisa makan ikan sendiri.
Dia takut terkena duri.
Ah, bagaimana cara Kumi agar bisa makan ikan, ya?
Kumi has been able to eat by himself.
Still, he can't eat fish by himself.
He's worried of the fish bones.
Hm, what should he do to eat fish safely?
">
Kumi sudah bisa makan sendiri.
Tetapi, Kumi belum bisa makan ikan sendiri.
Dia takut terkena duri.
Ah, bagaimana cara Kumi agar bisa makan ikan, ya?
Kumi has been able to eat by himself.
Still, he can't eat fish by himself.
He's worried of the fish bones.
Hm, what should he do to eat fish safely?
...Sungguh sedih melihat umat Islam terpecah menjadi sekian golongan. Tak jarang pertikaian menjadi awal permusuhan. Terputuslah silaturahim. Menyebarlah prasangka buruk, dusta, bahkan fitnah yang sangat keji. Fanatisme golongan menjadi dalil segala keyakinan. Merebaklah kecenderungan untuk menganggap pendapat sendiri yang paling benar dan menafikan pendapat yang lain.
Inilah wajah umat sekian abad sepeninggal Rasulullah Saw.: terkotak-kotak dalam bingkai kelompok yang sangat sempit. Mereka melupakan misi kenabian. Sejak awal lelaki agung Al-Mustafa diangkat menjadi utusan, berkali-kali beliau menegaskan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Misi Nabi Saw. adalah menegakkan akhlak yang mulia. Tetapi, justru karena perbedaan pendapat—yang umumnya berasal dari tata cara syariat (fiqih)—umat sepeninggal Nabi Saw. justru tercerai-berai. Karena alasan fiqih, tak jarang akhlak ditinggalkan. Karena perbedaan tata cara ibadah, betapa sering terjadi perselisihan.
Jalaluddin Rakhmat ingin kembali mengingatkan kita akan misi kenabian. Dalam bukunya ini, ia menelaah akar perselisihan, mengkaji berbagai persoalan, dan mengedepankan sebuah pemecahan bahwa di tengah perbedaan pendapat seperti apa pun, akhlak yang mulia tetap harus kita tegakkan.
">
Sungguh sedih melihat umat Islam terpecah menjadi sekian golongan. Tak jarang pertikaian menjadi awal permusuhan. Terputuslah silaturahim. Menyebarlah prasangka buruk, dusta, bahkan fitnah yang sangat keji. Fanatisme golongan menjadi dalil segala keyakinan. Merebaklah kecenderungan untuk menganggap pendapat sendiri yang paling benar dan menafikan pendapat yang lain.
Inilah wajah umat sekian abad sepeninggal Rasulullah Saw.: terkotak-kotak dalam bingkai kelompok yang sangat sempit. Mereka melupakan misi kenabian. Sejak awal lelaki agung Al-Mustafa diangkat menjadi utusan, berkali-kali beliau menegaskan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Misi Nabi Saw. adalah menegakkan akhlak yang mulia. Tetapi, justru karena perbedaan pendapat—yang umumnya berasal dari tata cara syariat (fiqih)—umat sepeninggal Nabi Saw. justru tercerai-berai. Karena alasan fiqih, tak jarang akhlak ditinggalkan. Karena perbedaan tata cara ibadah, betapa sering terjadi perselisihan.
Jalaluddin Rakhmat ingin kembali mengingatkan kita akan misi kenabian. Dalam bukunya ini, ia menelaah akar perselisihan, mengkaji berbagai persoalan, dan mengedepankan sebuah pemecahan bahwa di tengah perbedaan pendapat seperti apa pun, akhlak yang mulia tetap harus kita tegakkan.
...| Soft Cover | Rp. 89.000 | Rp. 71.200 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||




Keranjang






