Dari masa lalu ketika transportasi laut masih berjaya, hingga kini ketika Indonesia
kembali melirik laut sebagai hamparan yang melahirkan peradaban, pesona Kepulauan Seribu tak ada habisnya. Nama-nama pulau di Kepulauan Seribu sudah muncul dalam catatan para
pelaut internasional sejak abad 17. Sebuah catatan pelayaran perusahaan kapal berjudul Directions For Sailing to and from the East Indies, China, Australia, Cape of Good Hope, Brazil and Interjacent Ports, yang berisi petunjuk detail dan teknis rute pelayaran, menyebut Kuyper’s Island (kini sebagai Pulau Cipir) sebagai pulau yang lebih baik dihindari karena menyebabkan kapal karam. Demikian
Kepulauan Seribu, walau jumlahnya tak sampai seribu, pesonanya semakin lama semakin nyata.
Dari wilayah seluas 869,61 hektare dengan 110 pulau ini, hanya 11 pulau yang digunakan sebagai permukiman. Secara administratif, permukiman tersebut dibagi menjadi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kepulauan Seribu Selatan. Kecamatan Kepulauan Seribu Utara terdiri dari 3
kelurahan, yaitu Kelurahan Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan. Sedangkan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan terdiri dari 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Pulau Untungjawa, Pulau Tidung, dan Pulau Pari. Buku Ensiklopedia Pulau-pulau Kecil di Provinsi
DKI Jakarta, memberikan kontribusi
untuk pengembangan pulau-pulau dan promosi potensi sumber daya yang ada di dalamnya sehingga memberikan manfaat dan keuntungan bagi kesejahteraan masyarakat.
Basuki Tjahaja Purnama (Gubernur Provinsi DKI Jakarta)
Teluk Jakarta berada pada posisi strategis nasional dengan 13 muara sungai
pembuangan hasil dari aktivitas berbagai pembangunan di hilir sampai hulu, yang
memengaruhi maraknya perusakan lingkungan pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.
Manusia memegang peran penting, akibat faktor ketidaktahuan (ignorance) atau hanya
mementingkan profit. Konsep-konsep dasar ekologi khususnya dalam pengambilan
keputusan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), dalam pendidikan
lingkungan kaitannya dengan biodiversitas, konsep ecological efficiency dalam greengrowth
for social justice, serta ekologi dalam manajemen lingkungan menjadi perlu
diterapkan di Teluk Jakarta.
Prof. Dr. I Made Putrawan
(Pakar Pendidikan Lingkungan Universitas Negeri Jakarta)