Kalau sampai waktuku
‘Ku tak mau seorang, ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan yang terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap mendorong menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih dan perih
Dan aku akan lebih baik tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Chairil Anwar, seorang penyair terkemuka di Indonesia yang dijuluki ‘Si Binatang Jalang” lahir dan besar di Medan. Kemudian pindah ke Batavia yang sekarang disebut Jakarta pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Puisinya yang ia tulis menyangkut berbagai tema; mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Selama masa hidupnya, Chairil sudah menulis 94 karya, 70 diantaranya adalah puisi yang kebanyakan belum dipublikasikan. Karya-karya yang ia tulis juga sudah banyak diterbitkan dengan berbagai bahasa, yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Rusia dan Bahasa Spanyol. Walaupun sempat dituduh plagiarisme oleh H.B Jassin karena tulisannya yang berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat memiliki kemiripan puisi Karawang-Bekasi dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, Ia tetap dapat membuktikan kesuksesannya dengan semua karyanya.
Buku ini berisi sajak-sajak terkemuka Chairil Anwar yang dihiasi dengan ilustrasi. Dari kumpulan sajak ini tercermin perjuangan yang tak pernah padam dan terus membahana dalam perjalanan waktu. Meski ia telah lama pergi, karya-karyanya masih dapat kita nikmati hingga sekarang.
Chairil Anwar adalah seorang penyair besar Indonesia yang karya-karyanya abadi sepanjang zaman. Ia lahir di Medan, 26 Juni 1922 dan meninggal dengan usia yang sangat muda pada tanggal 28 April 1949 di Jakarta. Pendidikan yang sempat ditekuninya adalah HIS dan MULO (tidak tamat). Ia adalah ujung tombak Angkatan 45 yang menciptakan trend baru pemakaian kata dalam berpuisi. Tidak seperti penyair angkatan terdahulu, Pujangga Baru, yang cenderung mendayu-dayu dan romantis, kata-kata dalam puisi-puisi Chairil terlihat sangat lugas, solid dan kuat. Salah satu puisinya yang paling sering dideklamasikan berjudul Aku dengan lariknya yang terkenal "Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!". Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Buku kumpulan puisinya yang diterbitkan Gramedia adalah Aku ini Binatang Jalang (1986).