SELURUH karir kepenulisan Goenawan Mohamad bergerak di wilayah luas pemaknaan. la turut menyumbangkannya melalui perangkat pembentuk makna yang ampuh: tafsir.
Sepanjang menyangkut fiksi, ruang tafsir terbuka selebar-lebarnya. Dalam pasar dan kontestasi makna itulah Catatan Pinggir memainkan peran aktif, meski ia melakukannya tanpa ambisi tinggi; hal yang memungkinkan staminanya terjaga hingga memasuki dekade kelima.
Dengan bentuknya yang ringkas-padat, Catatan Pinggir seperti gumaman kakofoni di tengah ceramah tokoh-tokoh besar—para pejabat negara, pemimpin-pemimpin dunia, ulama yang dipanuti jutaan orang, ilmuwan yang disanjung berkat temuan-temuan besar mereka. Jika celetukannya tak digubris—ia tahu inilah yang selalu terjadi—ia tak jera. Dari pinggir, ia terus mencatat tiap pekan, sebab barangkali ia terutama sedang mencoba merumuskan tafsir baru atas fiksi lama maupun baru untuk membentuk pemaknaan baru buat dirinya sendiri, dan mungkin sejumlah lingkungan audiens sasarannya.
Bentuk pendek Catatan Pinggir itu cocok pula untuk memenuhi kecenderungan penulisnya yang tak berminat menuntaskan pembahasan, sebab ia tak percaya isu-isu pelik kegemarannya bisa dibahas tuntas. la selalu memilih kebelumselesaian.
Selain penulis terbaik Indonesia sepanjang masa, Goenawan Mohamad adalah salah satu stylist terbaik dunia. Ada tiga resep ampuh untuk dapat menghasilkan tulisan sebaik karyanya.
Sayang sekali tidak ada orang lain yang tahu satu pun dari ketiganya.
(Hamid Basyaib)
SELEPAS jadi pemimpin redaksi majalah Tempo dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan nyaris jadi apa yang ia pernah tulis dalam sebuah esainya: transit lounger. Seorang yang berkeliling dari satu negara ke negara la¬in: mengajar, berceramah, menulis. Seorang yang berpindah dari satu tempat penantian ke tempatpenantian berikutnya,tapiakhirnya hanya punya sebuah Indonesia. Seperti ditulisnya dalam sebuah sajaknya: "Barangkali memang ada sebuah negeri yang ingin kita lepaskan tapi tak kunjung hilang.
Dalam perjalanan itu lahir sejumlah karya. Bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powel ia membuat libretto untuk opera Kali (dimulai 1996, tapi dalam revisi sampai 2003) dan dengan Tony, The King's Witch (1997-2000). Yang pertama dipentaskan di Seattle (2000), yang kedua di New York. Di tahun 2006, Pastoral, se¬buah konser Tony Prabowo dengan puisi Goenawan, dimainkan di Tokyo, 2006. Di tahun ini juga ia mengerjakan teks untuk drama tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut Rina beserta Gamelan Sekar Jaya di Berke¬ley, California. Tapi ia juga ikut dalam seni pertunjukan di dalam negeri. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, Goenawan menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan dalang Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni, (1995) dan dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), dan drama tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo. la menulis dan menyutradarai ...