Leo, Aurora, Noah, Alba, Julia, Máni, Cucu-Cucu Kesayanganku.
Hari ini aku membolak-balik buku Dunia Sophie yang kutulis
lebih dari 3 dasawarsa lalu. Bak disambar petir,
aku tersadar ada satu pertanyaan penting yang belum kutanyakan.
Itu seakan-akan membuka sebuah ruang besar kosong dalam diriku.
Karena itulah, aku menulis surat ini untuk kalian.
Jostein Gaarder mencoba mencari jawaban atas pertanyaan terpenting itu, kemudian menuliskannya dalam bentuk surat untuk cucu-cucunya dan seluruh pembaca di dunia. Mulai dari menguak momen keajaiban yang pernah dialaminya ketika kecil, mengamati kepik rerimbunan hutan, memperbandingkan antara ahli ortopedi dan astronaut, hingga mitologi Nordik. Dengan lugas dan menyenangkan, Jostein mengajak para cucunya dan pembaca untuk menyadari bahwa Kitalah yang Ada di Sini Sekarang, di Bumi ini, di Semesta ini, di Waktu Geologis saat ini.
“Bacaan bagus untuk generasi milenial, menjelaskan mengapa kehidupan ini tetaplah ajaib, meskipun kini sains seolah-olah bisa menjelaskan segalanya. Percaya, harapan,
dan kasih sayang tetaplah hal utama bagi masa depan manusia.”
—Prof. Dr. Bambang Sugiharto, Pakar Filsafat
Jostein Gaarder adalah sosok di balik Dunia Sophie. Sebuah buku yang terus bertahan menjadi bestseller sejak terbitnya dan merupakan buku pengantar filsafat paling populer hingga saat ini. Tetapi, ternyata menurut penulisnya sendiri, ada satu pertanyaan terpenting yang tertinggal. Sebuah pertanyaan yang mengguncang fondasi filsafat hidup seorang Jostein Gaarder. Apakah pertanyaan itu? Nah, melalui buku terbarunya, Jostein mengajak pembaca mencari jawabannya.
Jostein Gaarder (lahir 8 Agustus 1952) adalah seorang penulis novel, cerita pendek dan buku anak-anak dari Norwegia.
Gaarder dilahirkan di Oslo, Norwegia, di keluarga yang berpendidikan. Dia mempelajari bahasa-bahasa Skandinavia dan Teologi di University of Oslo. Sebelum memulai karir menulisnya, dia mengajar filsafat.
Karyanya yang paling terkenal adalah Dunia Sophie, dengan subtitel Sebuah Novel Tentang Sejarah Filsafat. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam limapuluhtiga bahasa; duapuluhenam juta eksemplar tercetak, dengan tiga juta eksemplar terjual di Jerman saja.
Pada tahun 1997, dia mendirikan Sophie Prize bersama istrinya, Siri Danneviq. Penghargaan internasional ini diberikan kepada perjuangan untuk pembangunan masyarakan dan pelestarian lingkungan, sebesar US$ 100,000, yang diberikan setiap tahun. Penghargaan ini dinamai sesuai dengan novelnya Dunia Sophie.