^Kalian orang-orang tolol yang percaya pada mimpi.^ Mimpi itu memberitahunya bahwa ia akan memperoleh seorang kekasih. Dalam mimpinya, si kekasih tinggal di kota kecil bernama Pangandaran. Setiap sore, lelaki yang akan menjadi kekasihnya sering berlari di sepanjang pantai ditemani seekor anjing kampung. Ia bisa melihat dadanya yang telanjang, gelap, dan basah oleh keringat, berkilauan memantulkan cahaya matahari. Setiap kali ia terbangun dari mimpi itu, ia selalu tersenyum. Jelas ia sudah jatuh cinta kepada lelaki itu.
Tentang EKA KURNIAWAN
EKA KURNIAWAN
Eka Kurniawan lahir di Tasikmalaya, 1975. Ia menyelesaikan studinya dari Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada. Beberapa novelnya adalah Cantik Itu Luka; Lelaki Harimau; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas; dan O. Cerpen-cerpennya diterbitkan ke dalam sejumlah antologi seperti Corat-coret di Toilet, Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya, Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-Cerita Lainnya, Kumpulan Budak Setan, dan Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Karya terbarunya terbit pada 2021 berjudul Sumur.
Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diadaptasi ke layar lebar. Kekuatan karyanya mendatangkan penghargaan di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa penghargaan tersebut antara lain Prince Claus 2018 dari Kerajaan Belanda, Emerging Voice 2016 di New York, dan World Reader's Award 2016.
Eka Kurniawan bisa dijumpai di:
Instagram: @Gnolbo
Twitter: @Gnolbo
Keunggulan Buku
Kumpulan cerita Eka Kurniawan yang sangat khas: eksploratif dan penuh kejutan; satir dan merefleksikan kenyataan; intim dan menyadarkan
Buku yang selesai dibaca dalam sekali duduk, namun kisah-kisahnya menghantui untuk dibaca beberapa kali
Mengambil ide dari mana saja, bahkan dari teka-teki gajah masuk kulkas atau dongeng si itik buruk rupa, yang dikemas sedemikian rupa hingga memberikan makna dan kesan baru
Cerpen dengan ending plottwist.
Eka Kurniawan lahir di sebuah desa, dua jam dari Tasikmalaya, 28 November 1975 dan tinggal di sana dengan keempat kakek-neneknya. Desa itulah yang menjadi pijakan awal O Anjing. Beberapa bahan lainnya diperoleh dari tempat lain: ia mengikuti orangtuanya tinggal di perkebunan karet di Cilacap, sebelum mereka pindah lagi ke kota kecil Pangandaran.Di kota itulah, tepatnya ketika masuk SMPN 1 Pangandaran, keinginan untuk menulis pertama kali muncul. Barangkali didorong oleh perkenalannya dengan buku bacaan yang disewakan oleh taman bacaan yang berkeliling dengan sepeda. Puisi pertamanya muncul di majalah anak-anak Sahabat. Ia juga menulis cerpen-cerpen lucu untuk dibaca teman-temannya. Sekolahnya dilanjutkan ke SMAN 1 Tasikmalaya dan tinggal bersama bibinya. Di sana ia lebih banyak di perpustakaan sekolah, menulis di rumah (ayahnya menghadiahinya mesin tik portable karena berhasil meraih lima besar lulusan terbaik) hingga kemudian ia merasa bosan. Ia memulai perjalanan selama berminggu-minggu melintasi kota-kota hingga Jakarta, kemudian berbelok ke timur melewati Cirebon, Tegal, dan Purwokerto. Ketika ia kembali, sekolah telah mengeluarkannya. Ia kembali ke Pangandaran dan masuk SMA PGRI, satu-satunya sekolah yang mau menerimanya tanpa harus mengulang kelas. Selama empat semester ia berhasil mempertahankan ranking pertama tanpa kehilangan kegemarannya untuk membolos; ia suka menjelajahi daerah-daerah sekitar. Tempat favoritnya adalah rawa-rawa Segara Anakan (tempat ...