Mata waktu, mata sunyi: memanggil, menelan.
Ceruk cinta yang haus warna. Ceruk perempuan.
Malam ini aku akan tidur di matamu.
*
Daun-daun celana berguguran di senja tersayang.
Di senja tersayang daun-daun celana berguguran.
*
Tangan kecil hujan menjatuhkan embun ke celah bibirmu,
meraba demam pada lehermu,
dan dengan takzim membuka kancing bajumu.
*
Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.
*
Tinggallah air mata yang menetes pelan ke dalam segelas bir
yang menempel pada dada yang setengah terbuka,
setengah merdeka.
*
Aku telah menguburkan saudaramu di sebuah rimba.
Karena tak kutahu namanya, kutandai saja ia dengan tulisan
KORBAN NOMOR 65.
***
Pernahkah Anda terpikir betapa menariknya dunia yang terbuka lebar melalui lembaran buku? Membaca bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah petualangan tanpa batas ke dalam imajinasi dan pengetahuan. Aktivitas ini mampu mengasah pikiran, membuka wawasan, serta memperkaya kosakata. Membaca adalah pintu menuju dunia luas di luar diri kita.
Untuk membangun kebiasaan membaca, tetapkan waktu khusus setiap hari. Anda bisa memulainya dengan membaca sebelum tidur atau menyempatkan waktu di pagi hari. Konsistensi adalah kunci utama.
Pilihlah buku yang sesuai dengan minat dan tingkat literasi Anda. Mulailah dari bacaan yang terasa nyaman dan menyenangkan agar kebiasaan ini dapat bertahan lama.
Ciptakan suasana membaca yang kondusif. Tempat yang tenang, pencahayaan yang cukup, kursi yang nyaman, serta alunan musik lembut dapat meningkatkan kenyamanan saat membaca.
Bergabunglah dengan kelompok membaca atau forum literasi. Dengan berdiskusi, Anda dapat memperdalam pemahaman sekaligus mendapatkan rekomendasi buku dari sesama pembaca.
Biasakan membuat catatan atau jurnal membaca. Tuliskan pemikiran, kesan, serta pelajaran yang Anda peroleh dari setiap buku.
Libatkan keluarga dalam kegiatan membaca. Membacakan cerita kepada anak-anak atau membaca bersama dapat mempererat hubungan keluarga melalui aktivitas yang positif.
Jangan ragu untuk menjelajahi berbagai genre baru. Terkadang, pengalaman terbaik justru datang dari buku yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.
Joko Pinurbo lahir 11 Mei 1962. Tahun 1987 ia menyelesaikan studi di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP (sekarang Universitas) Sanata Dharma, Yogyakarta. Kemudian mengajar di almamaternya sambil membantu majalah kebudayaan Basis. Pada 1992 bergabung dengan Kelompok Kompas Gramedia. Selain menulis dan menyunting naskah, mengajar dan berceramah, ia ikut mengelola majalah Matabaca dan jurnal puisi. Ia gemar mengarang sejak di SMA. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacar Kecilku (2002), Trouser Doll (2002), dan Telpon Genggam (2003). Joko sering diundang baca puisi diberbagai tempat, termasuk di beberapa forum sastra antar-bangsa. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa asing. Menerima Penghargaan Buku Puisi Pusat Kesenian Jakarta 2000; Hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award 2001; Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002 dan masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2001, 2002, 2003.