| Soft Cover, Oktober 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
62.
No Image Available
| Soft Cover, September 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Ketika kita tidak berdaya ”dipermainkan” oleh isi siaran televisi yang berlumuran kekerasan, yang ternyata hanya demi mempertahankan rating dan pemasukan iklan, pemirsa pun seolah terdepak dan tercerabut dari akar nilai-nilai luhur bangsa yakni keadilan (memperoleh informasi) yang berketuhanan.
Hal yang tadinya tidak boleh diketahui dan hal yang tadinya memang harus diketahui, misalnya, bercampur-baur dan kemudian membentuk “dunia baru” yang melampaui kenyataan ...
63.
| Soft Cover, September 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Menjadi anggota Dewan (Perwakilan Rakyat) berarti hidup aman, nyaman, dan sejahtera karena banyaknya fasilitas dan hak istimewa yang diberikan negara serta didapatnya gengsi sosial yang tinggi. Karenanya, tak heran jika banyak orang melihat pemilihan umum legislatif sebagai ajang “pertempuran” dalam rangka menggapai kehidupan yang serba lebih baik.
Namun, bagaimana sesungguhnya fakta dan realitas pelaksanaan pemilu di Indonesia? Seperti apa aturan main dalam ...
64.
| Soft Cover, Agustus 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono pada tahun 1968 pernah bertugas di Kalimantan Barat (1968 ) sebagai perwira muda dari pasukan elite Puspassus (cikal bakal Kopassus sekarang). Ketika itu ia tergabung dalam Detasemen Tempur 13 yang ditugasi melaksanakan operasi para-komando. Di masa penugasan yang kedua ia tergabung dalam Satuan Tugas 42 yang diberi tanggung jawab melaksanakan operasi Sandi Yudha. Pada masa itulah Hendropriyono menerapkan taktik anti-inserjensi dan klandestin yang ...
65.
| Soft Cover, Agustus 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Indonesia perlu segera menegakkan kedulatan frekuensi di wilayah udaranya. Tanpa kedaulatan ini, arus deras informasi global bakal tak terbendung dan menenggelamkan idealisme kepenyiaran radio maupun televisi dalam cengkeraman bisnis semata. Dampak lanjutannya, nilai-nilai asing, yang tak selalu positif, bakal dengan gampang merasuki kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.
Di tengah gejolak konvergensi media, fenomena konglomerasi bisnis penyiaran, dan ketidakberdayaan UU Penyiaran, ...
66.
| Soft Cover, Agustus 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Isokichi Yoshida (1867–1936) dari Kitakyushu bisa dikatakan Yakuza pertama, pemimpin pertama Yamaguchi-gumi. Yakuza telah mempertahankan hubungan yang sangat erat dengan entitas politik dan korporasi Jepang dalam pertumbuhan mereka selama puluhan tahun.
Sejak 1991, Yakuza mulai dibatasi ruang geraknya. Sampai Oktober 2012 pemerintah merevisi UU Anti-Yakuza untuk ke-34 kalinya, memuat 21 larangan bagi Yakuza, termasuk larangan membuka rekening bank, masuk ke klub malam, restoran, pemandian ...
67.
| Soft Cover, Agustus 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Berbagai persoalan masih terus membelit negeri ini. Lemahnya penegakan hukum, kemacetan lalu lintas Ibu Kota, penganiayaan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, hingga masalah politik uang dalam pilkada, datang silih berganti, bahkan sering kali tumpang tindih satu sama lain.
Ketika menjadi wakil presiden (2004-2009), Jusuf Kalla sering disebut sebagai “the real president” karena kecepatannya membaca situasi dan membuat keputusan, serta ketepatannya dalam bertindak. ...
68.
| Soft Cover, Juli 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
”Buku ini membantu kita belajar cepat tentang Mesir, termasuk latar belakang revolusi yang menjatuhkan Presiden Hosni Mubarak dan kericuhan yang mengguncang Presiden Mohammad Mursi. Dengan lihai penulis mengantar pembaca meniti satu persatu bagian dari Mesir. Bahasanya ringan, gayanya romantis, tapi diisi dengan rujukan pustaka yang kaya. Yang awam sekalipun pasti bisa menikmati buku ini.” ~ Dinna Wisnu, Pemerhati bidang politik ekonomi internasional dari Universitas ...
69.
| Soft Cover, Juli 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Djafar Husin Assegaff, anggota Dewan Redaksi Media Group, pernah mengatakan, setelah gonjang-ganjing reformasi, ia tidak ikut terbawa arus kerinduan pada pemerintahan Pak Harto, seperti banyak disuarakan orang. Akan tetapi, secara tulus ia mengakui masa keemasan pemerintahan Soeharto ketika ia menjadi penulis karangan utama atau tajuk rencana harian Surabaya Post, akhir 1989 hingga akhir 1993.
Menurut Djafar, masa kekuasaan Soeharto yang 32 tahun dapat dibagi ke dalam empat periode, ...
70.
| Soft Cover, Juni 2013 | Rp. 198.000 | Rp. 178.200 (10% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
The children of war sudah berlalu, kini kami adalah the children of peace. Tak ada lagi kata saling menyalahkan, tak ada lagi kata kalah dan menang. Berhenti mewariskan konflik dan tidak membuat konflik baru. Itu tekad, bukan slogan.
Berbagai peristiwa konflik di Indonesia pasca-kemerdekaan akibat adanya pertentangan ideologi, mewariskan luka yang dalam selama puluhan tahun di hati anak-cucu yang orangtuanya terlibat konflik.
Rasa terhina, dendam, benci, takut, menyesaki dada setiap ...
71.
| Soft Cover, Mei 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Catatan rekam jejak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada masa kritis 1963-1966, masa kepemimpinan Sulastomo. Sebagai kekuatan anti komunis, HMI menjadi sasaran bidik Partai Komunis Indonesia yang mendesak Presiden Sukarno agar organisasi mahasiswa itu dibubarkan. Walau HMI adalah organisasi independen, kaum komunis selalu menudingnya sebagai onderbouw Masyumi, yang pada 1960 dinyatakan sebagai partai politik terlarang.
HMI merupakan salah satu elemen penting dalam fase transisi ...
72.
| Soft Cover, Mei 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
A.M. Hendropriyono selalu aktif mengamati perkembangan kejadian penting di Tanah Air. Apa saja yang diamati dan bagaimana solusinya menurut Hendropriyono? Sebut saja berbagai peristiwa peledakan bom dan terorisme, kebijakan dan aksi militer, masalah korupsi, ekonomi kerakyatan, konflik TNI-Polri, hingga fenomena meningkatnya ketidakpastian hukum, semua tak luput dari pengamatan dan analisisnya.
Buku ini berisi butir-butir perenungan Hendropriyono, tokoh ...
73.
| Soft Cover, Mei 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Kisah manusia perahu Vietnam adalah bagian dari sejarah kemanusiaan yang kelam. Penindasan akibat pergolakan politik berkepanjangan Indochina memaksa ribuan rakyat Vietnam meninggalkan tanah air mereka. Untuk mencapai tanah pengungsian mereka harus menyabung nyawa. Berlayar berdesakan di atas kapal-kapal kayu sederhana, terombang-ambing di Laut China Selatan. Tak sedikit yang akhirnya mati sia-sia terbenam di laut atau tewas di tangan bajak laut.
Bersama UNHCR, Pemerintah Indonesia ...
74.
| Soft Cover, April 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Praktik korupsi di Indonesia sudah merajalela bagaikan gurita. Sebagian pelakunya berhasil dipenjarakan, tapi sebagian lagi masih bisa lolos. Hukuman fisik saja tidak membuat para koruptor kapok. Apa yang harus dilakukan agar tercipta efek jera?
Praktik korupsi menyebabkan rusaknya semua sistem dan sendi kehidupan bernegara. Korupsi dan lemahnya penegakan hukum juga jadi penghambat pembangunan dan memperparah kemiskinan jutaan rakyat Indonesia. Bagaimana sebaiknya korupsi diberantas? ...
75.
| Soft Cover, Februari 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Siapa pun yang akan menjadi Presiden Indonesia 2014 harus memiliki strategi dan perencanaan yang jelas untuk menyelesaikan setumpuk persoalan di dalam negeri dan dalam menghadapi tantangan global.
Korupsi dalam skala massif ada di depan mata, menimbulkan gugatan apakah reformasi kelembagaan sudah memadai sehingga tinggal menunggu pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan tentang Indonesia yang tindakan dan ucapannya sejalan? Ataukah reformasi kelembagaan belum selesai, sehingga berbagai ...
76.
| Soft Cover, Juni 2012 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Dalam pusaran sejarah kontemporer Indonesia, Zulkifli Lubis adalah sosok misterius. Bahkan di lingkungan TNI AD,
tempatnya mengabdikan diri sebagai perwira intelijen,
nyaris tak ada orang yang tahu siapa ia sebenarnya dan kehidupan macam apa yang dilakoninya.
Ibarat lukisan, gambar Kolonel Zulkifli Lubis di warna idengan cat hitam, tanpa campuran warna putih.
Apa yang cukup banyak diketahui hanyalah kesalahan-kesa lahannya, termasuk keterlibatannya dalam pemberontakan Pemerintah ...
77.
| Soft Cover, Juni 2012 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Salah satu faktor pemicu
munculnya berbagai persoalan di
Papua adalah adanya kenyataan
bahwa orang Papua hidup
dengan nasionalisme ganda
dalam jiwa mereka. Sampai
masa Perang Dunia II (Perang
Pasifik), sudah belasan tahun
rakyat Papua hidup dalam dogma
“nasionalisme Papua” yang
ditanamkan Belanda. Dogma ini
menebar impian bahwa orang
Papua kelak akan hidup berdaulat
atas bumi mereka sendiri. ...
78.
No Image Available
79.
| Soft Cover, Mei 2012 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Pernah ada masa dimana hak asasi manusia (HAM), hanyalah sebuah kata yang merujuk ke sesuatu yang amat samar, tak berbentuk. Kala itu mesin kekuasaan absolut menggemuruh dan selalu ingin menggilas. Mulut harus dibungkam.
Perasaan harus dibekukan. Pikiran jernih wajib
di tenggelamkan. Nurani tidak boleh diberi tempat. Kita hidup di alam yang serba awas, penuh selidik, dan kecurigaan.
Dunia kini telah banyak berubah. Cara berpikir dan bertindakpun ikut berubah. HAM tidak lagi menjadi ...
80.
| Soft Cover, Mei 2012 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Dengan menulis buku ini Adnan Buyung Nasution sebenarnya telah melanggar aturan. Salah satu pasal Undang-Undang tentang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) menyebutkan: ”Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, anggota Wantimpres tidak dibenarkan memberikan keterangan, pernyataan, dan/atau menyebarluaskan isi nasihat dan pertimbangan kepada pihak mana pun”.
Buyung justru membeberkan pengalaman dan suka-duka selama menjadi anggota Wantimpres angkatan pertama (2007-2009). ...




Keranjang






