Cahaya Allah tidak berhenti memancar, ilmu Tuhan terus-menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang dikuburkan—dan tubuh beliau adalah bagian yang paling remeh dari eksistensi kepribadiannya yang menyuluhi alam semesta. Wahyu itu sudah sempurna, tetapi belum selesai karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran umatnya.
***
Anak-anak sering berkelakar, selepas kepergian nabi terakhir Rasulullah Saw., Jibril pun ikut pensiun. Tak ada lagi nabi yang perlu ia datangi untuk menyampaikan wahyu dari Allah Swt. Segala pengetahuan dasar yang perlu diketahui manusia telah ditanam benihnya di dalam Al-Quran.
Lalu, lama-kelamaan kita mengamini serta meyakininya dengan cara yang kebablasan: tak akan ada lagi wahyu yang datang. Manusia modern kemudian menutup rapat-rapat hatinya ketika merasakan sepercik hidayah. Mengunci jiwanya dari beberapa petunjuk rahasia keilahian. Orang-orang yang merasa tahu padahal sejatinya tak pernah mencari.
Emha Ainun Nadjib,lahir di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 27 Mei 1953, sebagai anak keempat dari 15 bersaudara. Ia mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor dan meneruskan ke Universitas Gadjah Mada (hanya sebentar). Pada 1970 - 1975 hidup menggelandang di Malioboro, Yogya, ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi. Dan pernah menjadi redaktur harian Masa Kini (Yogyakarta), pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Ia mengikuti berbagai festival puisi antara lain di Belanda dan Jerman. Karyanya yang diterbitkan Gramedia adalah Trilogi Doa Mencabut Kutukan.