Deskripsi Produk
Usia 20 tahun termasuk waktu yang panjang bagi sebuah novel bisa eksis di tengah-tengah industri perbukuan Indonesia. Tak banyak buku yang terus dicetak ulang hingga 20 tahun sejak pertama kali terbit, kecuali beberapa buku novel yang menjadi kanon sastra Indonesia.
Novel karya Eka Kurniawan, “Cantik Itu Luka”, mampu mencapai usia panjang itu. Terhitung 20 tahun sejak terbit perdana tahun 2002, novel ini hingga kini masih dikenal, masih eksis dan dibicarakan oleh para pembaca sastra Indonesia. Alasan itu pula agaknya yang membuat buku ini dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama di tahun ini.
Novel “Cantik Itu Luka” adalah karya novel pertama Eka Kurniawan yang diterbitkan. Karya ini pertama kali diterbitkan oleh Akademi Kebudayaan Yogyakarta bersama Penerbit Jendela tahun 2002, sebelum akhirnya beralih ke Gramedia untuk cetakan kedua pada tahun 2004 silam.
Buku novel ini adalah penerima penghargaan World Readers pada tahun 2016, dan yang juga mengantarkan penulisnya menerima penghargaan internasional di Belanda, yaitu Prince Clause Awards tahun 2018.
Penghargaan-penghargaan itu tak lepas dari masifnya dan meluasnya distribusi novel “Cantik Itu Luka” dari masa ke masa. Novel ini berhasil menjadi best seller yang diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Jepang, Prancis, Denmark, Yunani, Kora serta Tiongkok. Popularitas yang melejitkan nama Eka Kurniawan di arus utama sastra Indonesia.
Jenis Cover : Hard Cover
Edisi 20 Tahun
Eka Kurniawan lahir di sebuah desa, dua jam dari Tasikmalaya, 28 November 1975 dan tinggal di sana dengan keempat kakek-neneknya. Desa itulah yang menjadi pijakan awal O Anjing. Beberapa bahan lainnya diperoleh dari tempat lain: ia mengikuti orangtuanya tinggal di perkebunan karet di Cilacap, sebelum mereka pindah lagi ke kota kecil Pangandaran.Di kota itulah, tepatnya ketika masuk SMPN 1 Pangandaran, keinginan untuk menulis pertama kali muncul. Barangkali didorong oleh perkenalannya dengan buku bacaan yang disewakan oleh taman bacaan yang berkeliling dengan sepeda. Puisi pertamanya muncul di majalah anak-anak Sahabat. Ia juga menulis cerpen-cerpen lucu untuk dibaca teman-temannya. Sekolahnya dilanjutkan ke SMAN 1 Tasikmalaya dan tinggal bersama bibinya. Di sana ia lebih banyak di perpustakaan sekolah, menulis di rumah (ayahnya menghadiahinya mesin tik portable karena berhasil meraih lima besar lulusan terbaik) hingga kemudian ia merasa bosan. Ia memulai perjalanan selama berminggu-minggu melintasi kota-kota hingga Jakarta, kemudian berbelok ke timur melewati Cirebon, Tegal, dan Purwokerto. Ketika ia kembali, sekolah telah mengeluarkannya. Ia kembali ke Pangandaran dan masuk SMA PGRI, satu-satunya sekolah yang mau menerimanya tanpa harus mengulang kelas. Selama empat semester ia berhasil mempertahankan ranking pertama tanpa kehilangan kegemarannya untuk membolos; ia suka menjelajahi daerah-daerah sekitar. Tempat favoritnya adalah rawa-rawa Segara Anakan (tempat ...