Ayah, di rentang waktu yang mengurangi usia, aku takut kekecewaan masih saja berdiam di dadamu. Sungguh tiada keinginan selain melihat seulas senyum bahagia di hari tuamu. Sudah cukup kau berjuang demi menciptakan hidupku yang lebih baik. Segala hal yang kau lakukan tak akan terbalas oleh apa pun. Kau paling paham, bahwa aku butuh kasih dan sayangmu.
Jangan biarkan sedih mengaliri wajahmu. Dalam setiap doa yang kau panjatkan, ada harapan-harapanku yang terwujud meski kadang sulit. Tetaplah menjadi bagian penting perjalananku, Ayah. Hingga nanti kita merasakan bahagia yang paling tinggi, di usia kita yang tak ada lagit.
Boy Candra lahir dan besar di Sumatera Barat. Pernah kuliah di jurusan Administrasi Pendidikan, Universitas Negeri Padang. Aktif di organisasi komunikasi dan radio di kampus (UKKPK UNP). Menulis rutin di blog
rasalelaki.blogspot.com. Aktif menulis sejak tahun 2011 Selain ingin terus menulis novel dan buku fiksi lainnya. Juga punya cita-cita menerbitkan buku puisi. Sehari-sehari bisa ditemui berkeliaran di akun-akun sosial media miliknya:
- Twitter : @dsuperboy
- Instagram : @boycandra
- Email : email.boycandra@gmail.com
Buku yang sudah terbit: Origami Hati (2013), Setelah Hujan Reda (2014), Catatan Pendek Untuk Cinta Yang Panjang (2015), Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai (2015).