Kita hidup di zaman yang penuh dengan perubahan. Pandemi, perkembangan sains dan teknologi, perang serta kerusakan lingkungan dan kesenjangan ekonomi, sesungguhnya bukan hanya gambaran awal tentang apa yang akan jadi tantangan bagi kita semua di masa depan, tetapi juga pengingat khususnya bagi para pendidik bahwa ada pola berulang dari bagaimana manusia membangun peradaban, bagaimana lensa agama dan praktik keberagaman memengaruhi kehidupan. Dalam hal ini, peran moderasi akidah dan pendidikan transformatif sangat besar.
Di buku kedua Hidup Bersama Al-Quran ini, tanya jawab, pemahaman dasar, yang disertai rujukan dalil dari Al-Quran dan sunnah dapat membantu kita menemukan esensi, yang melalui pembahasannya, ada formula-formula yang memudahkan untuk proses belajar. Poin-poin itu sekaligus diharapkan memberi dasar di mana, bagaimana dan tentang apa diskusi dua arah antar anak dan orang dewasa, bisa terjadi di ekosistem pendidikan kita.
Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan.[1] Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang ulama, pengusaha, dan politikus yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang. Ia juga tercatat sebagai rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959 - 1965 dan IAIN 1972 - 1977.