“Jika Anda membawa agama ke ranah politik, maka Anda merusak politik, dan jika Anda membawa politik ke ranah agama, maka Anda merusak agama.”
Kondisi ini lahir ketika politik tidak lagi disertai perilaku berkeadaban sehingga melampaui batas-batas kewajaran dalam mempraktikannya atau hal itu lahir ketika agama dipahami secara sangat kaku. Agama tidak dijadikan pedoman politik dan politik pun tidak berfungsi sebagaimana diharapkan, yaitu menciptakan suasana aman dan damai yang pada gilirannya melahirkan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.
Melalui buku ini, Prof. Dr. M. Quraish Shihab membahas bagaimana Al-Quran memberi petunjuk dan bagaimana Nabi Muhammad saw. mempraktikkan politik yang berkeadaban yang sebenarnya dapat dijadikan pedoman dalam politik.
Keunggulan Buku
1. Menampilkan secercah pandangan tentang hubungan Islam dan politik sambil berusaha menjelaskan tentang perubahan yang merupakan keniscayaan itu tanpa mengubah prinsip-prinsip ajaran, tidak juga apa yang telah disepakati.
2. Sebagai petunjuk untuk manusia agar agama tidak dijadikan alat politik dan politik pun dapat berfungsi sebagaimana diharapkan, yaitu menciptakan suasana aman dan damai yang pada gilirannya melahirkan kesejahteraan hidup duniawi dan kebahagiaan ukhrawi.
3. Menitikberatkan pada tinjauan disiplin ilmu yang dikenal dengan as-siyâsah asy-syar‘iyyah dan tentu saja dengan memilih yang paling sesuai dengan perkembangan masa kini dan sejalan dengan pemahaman penulis.
Tahun Terbit: Cetakan I, September 2023
Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan.[1] Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang ulama, pengusaha, dan politikus yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang. Ia juga tercatat sebagai rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959 - 1965 dan IAIN 1972 - 1977.