|
|
Sinopsis Buku: Bong jatuh cinta pada gadis yang dipanggil Keka. Itu biasa, karena selama ini ada lelaki lain yang juga naksir Keka. Juga biasa, kalau cinta menggebu tapi sekaligus ragu tak berakhir di pernikahan. Yang tak biasa, Keka memberi nama anak perempuannya Keka juga. Ternyata Keka generasi kedua ini tertarik pada Bong, walau ia hamil dengan lelaki lain. Bong menyelamatkan bayi yang nyaris digugurkan. Bayi itu dipanggil Keka Siang, karena lahirnya siang hari. Yang tidak biasa juga, Keka Siang itu ketika remaja tertarik juga sama Bong. Sempat pacaran. (Kalau tak salah malah tinggal bersama.)
Ketika mengetahui hal ini, Keka yang sudah menjadi nenek marah besar. Sang cucu tak peduli. Bong baru tahu bahwa Keka Siang adalah bayi yang pernah ditolong saat kelahirannya, ketika bertemu kekasihnya yang sudah tua, sudah menopause, tapi masih bisa cemburu. (Kalau tak salah juga sakit-sakitan.)
Bong bertemu dengan Keka, dan saling bercerita: dulu saat mereka pacaran takut sama orangtua, lalu takut diketahui anak, kemudian sekali takut ditertawakan cucu. (Kalau tak salah tersiratkan juga persaingan, juga pilihan karena Keka generasi ketiga ini akan bunuh diri kalau tidak jadi sama Bong.)
Di antara pohon gede, ikan lele, itik, juga pohon talok, (kalau tak salah ada juga peluru), cinta menemukan bentukan ketika bisa memberi makna.
Meskipun kalau ditanyakan kepada Bong siapa nama Keka yang sebenarnya, Bong mungkin tak tahu. atau juga Keka tak tahu apakah Bong itu nama singkatan dari nama Kecebong atau Bongkaran.
Kalau tak salah, cinta memang tak menuntut atau tahu banyak atau sedikit, menikah atau berpisah, nenek atau cucu.
Resensi Buku:
Jadilah yang pertama untuk meresensi buku ini!
Buku Lainnya oleh Arswendo Atmowiloto:
 | Rp 175.000 Rp 148.750 Baginda Raja Sri Kertanegara membawa Keraton Singasari ke puncak kejayaan yang tiada taranya pada awal sejarah keemasan. Pasukan Tartar yang berhasil ... [selengkapnya] |  | Rp 40.000 Rp 34.000 *Cetak ulang ganti cover*
Canting, carat tembaga untuk membatik, bagi buruh-buruh batik menjadi nyawa. Setiap saat terbaik dalam hidupnya, canting ... [selengkapnya] |  | Rp 7.000 Rp 5.950 Euis berharap mendapat hadiah. Ia sudah menyimpan kupon dari sebuah toko. Dan ketika pengumuman ditempelkan di kaca toko, ia bersyukur: Ada nama Euis ... [selengkapnya] |  | Rp 10.000 Rp 8.500 Becak Abah ditahan. Padahal surat-suratnya lengkap, juga tidak membuat kesalahan. Tapi Abah tak mau protes, tidak ingin demo, seperti yang diminta ... [selengkapnya] |
Lihat semua buku yang dikarang oleh Arswendo Atmowiloto »
| Tentang Pengarang:
 Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, diantaranya Keluarga Cemara, Becak Emak, yang terpilih sebagai Pemenang Kedua Buku Remaja Yayasan Adikarya IKAPI 2002. Bahkan karena prestasinya pula, dia sempat masuk penjara selama lima tahun!Kini ia mengelola penerbitan sendiri yang diberi nama Atmo Group. Ia tinggal di Jakarta dengan seorang istri yang itu-itu saja, tiga orang anak yang sudah dewasa,seorang cucu yang lucu, seekor anjing setia, ratusan lukisan buatan sendiri selama di ... [ selengkapnya]
|
Buku Sejenis Lainnya:
oleh Penny Jordan
Rp 33.000 Rp 28.050 Corrie Parsons mengalami masa kecil yang sangat pahit. Ia sering berpindah keluarga asuh dan tidak ada yang mau mengadopsinya. Di usia yang ke-7, ia ... [selengkapnya] | oleh Barbara Cartland
Rp 15.000 Rp 12.750 Aiden, Duke of Strathrannock, adalah pria tampan yang malang. Delapan tahun yang lalu, istrinya, sang Duchess, yang tidak dicintainya, tiba-tiba ... [selengkapnya] | oleh Marion Lennox
Rp 30.000 Rp 25.500 Tom Bradley jelas-jelas tidak senang ketika terjebak dengan seorang wanita hamil di antah berantah. Meskipun Rose Allen meyakinkan Tom bahwa ia tidak ... [selengkapnya] | oleh Lisa Childs
Rp 44.000 Rp 37.400 Armaya dalam bahasa Gipsi berarti kutukan. Armaya juga tempat Irina Cooper, dua saudari, dan ibunya tercerai-berai. Dua puluh tahun setelah itu, ... [selengkapnya] |
Lihat semua buku sejenis »
 Advertisement
|
|